PONTIANAK POST – Evakuasi helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air yang hilang kontak di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, menghadapi tantangan berat karena lokasi yang diduga menjadi titik kejadian berada di kawasan hutan lebat dan sulit dijangkau, Kamis (16/4).
Kondisi geografis berupa rimba rapat dengan akses terbatas membuat tim SAR gabungan harus bekerja ekstra dalam menyisir area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya helikopter.
Upaya pencarian mulai menemukan petunjuk awal setelah tim udara mendeteksi serpihan di kawasan hutan Nanga Taman yang diduga berasal dari helikopter tersebut.
Baca Juga: TNI AU Kerahkan Caracal dan Tim Pasgat untuk Pencarian Helikopter PK-CFX Hilang Kontak di Sekadau
Temuan itu kini menjadi fokus utama tim SAR untuk mempersempit area pencarian di tengah medan yang cukup ekstrem.
Helikopter PK-CFX sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Kabupaten Melawi menuju Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Pontianak menerima laporan hilangnya kontak pesawat dari AirNav sekitar pukul 10.40 WIB.
Baca Juga: Delapan Orang di PK-CFX yang Jatuh di Hutan Sekadau: Ini Nama Pilot dan Penumpangnya
Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan helikopter tersebut berangkat sekitar pukul 07.37 waktu setempat dari Melawi.
Helikopter dijadwalkan tiba di Sungai Ambawang pada pukul 08.50 WIB.
Namun dalam perjalanan, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba terputus atau lost contact pada pukul 08.10 WIB.
Dari hasil penelusuran awal, titik terakhir keberadaan helikopter diketahui berada di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau.
Informasi yang dihimpun juga menyebutkan lokasi tersebut berada di kawasan hutan Dusun Hulu Peniti yang memiliki medan berat dan minim akses transportasi.
Tim SAR kemudian menerima koordinat terakhir dari operator pesawat, Rulianto, melalui sistem pelacakan spasial (spatial tracking).
Koordinat tersebut langsung dijadikan acuan untuk mengerahkan tim pencarian ke lokasi yang diduga menjadi titik kejadian.
Sebanyak lima personel dari Pos SAR Sintang diberangkatkan melalui jalur darat untuk melakukan penyisiran awal di kawasan hutan tersebut.
Koordinasi juga dilakukan dengan Lanud Supadio untuk mendukung operasi pencarian melalui jalur udara.
Pada pukul 13.10 WIB, satu unit helikopter Super Puma diterbangkan dengan membawa empat kru serta didukung empat personel Kopasgat dan tim rescue.
Helikopter tersebut melakukan penyisiran udara di sekitar titik koordinat terakhir keberadaan pesawat.
Upaya pencarian dari udara akhirnya menemukan indikasi awal berupa serpihan di kawasan hutan Nanga Taman.
Meski demikian, hingga Kamis sore tim SAR masih melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan lokasi pasti kejadian.
“Kami masih melakukan pendalaman di lokasi yang diduga sebagai titik kejadian, dan informasi yang ada masih dalam tahap verifikasi,” kata Junetra.
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI AU, kepolisian, hingga potensi SAR lainnya.
Tim SAR memastikan seluruh sumber daya akan terus dioptimalkan untuk menemukan helikopter beserta awaknya.
“Kami akan terus menyampaikan perkembangan terbaru kepada media,” pungkasnya. (ash)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro