Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Viral Klaim HIV Tidak Ada, Dokter Peringatkan Bahaya Hoaks yang Bisa Picu Pasien Hentikan ARV

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 18 April 2026 | 15:53 WIB
Unggahan influencer Facebook yang mengklaim virus HIV tidak ada (X Adam Prabata)
Unggahan influencer Facebook yang mengklaim virus HIV tidak ada (X Adam Prabata)

 

PONTIANAK POST - Sebuah unggahan influencer di Facebook yang menyebut virus HIV tidak ada viral di media sosial dan memicu kekhawatiran serius dari kalangan tenaga medis.

Klaim tersebut dinilai menyesatkan dan berpotensi membahayakan, terutama setelah muncul pengakuan warganet yang menghentikan pengobatan HIV akibat terpengaruh informasi tersebut.

Klaim Viral: HIV Disebut Tidak Ada

Dalam tangkapan layar yang beredar luas, seorang influencer mengklaim bahwa peserta webinarnya mulai paham bahwa HIV tidak ada.

Baca Juga: RSUD SSMA Pontianak Tegaskan HIV Tak Menular Lewat Sentuhan, Ajak Publik Hentikan Stigma

Narasi ini dengan cepat menyebar dan menuai reaksi keras, karena bertentangan dengan fakta ilmiah yang telah lama diakui secara global.

Yang lebih mengkhawatirkan, di kolom komentar unggahan tersebut muncul pengakuan seseorang yang berhenti mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) setelah mempercayai klaim tersebut.

Hoaks Berbahaya dan Bisa Berdampak Fatal

Dokter sekaligus edukator kesehatan, Adam Prabata, menegaskan bahwa klaim tersebut adalah hoaks yang sangat berbahaya.

Baca Juga: Obat Pencegah HIV Siap Edar, UNAIDS Desak Harga Terjangkau demi Akses Global

Menurutnya, penyebaran informasi keliru seperti ini dapat mendorong pasien mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri, termasuk menghentikan pengobatan yang seharusnya dijalani seumur hidup.

“Yang paling dikhawatirkan dari narasi seperti ini adalah orang lain yang terpengaruh dan menjadi destruktif untuk dirinya sendiri,” tulisnya melalui akun X (17/4).

Ia juga menyoroti adanya komentar warganet yang mengaku berhenti minum ARV akibat terpengaruh informasi tersebut.

Stop ARV Bisa Perburuk Kondisi

Dr. Adam menegaskan bahwa menghentikan terapi ARV merupakan tindakan berisiko tinggi. Obat ini berfungsi menekan jumlah virus dalam tubuh agar tetap terkendali.

“Stop ARV itu berbahaya. Bisa memperburuk kondisi, meningkatkan risiko penularan, bahkan mengancam nyawa,” tegasnya.

Tanpa pengobatan yang rutin, kondisi pasien HIV dapat memburuk dan meningkatkan kemungkinan penularan kepada orang lain.

Baca Juga: Pentingnya Mengenali Tahapan Infeksi HIV dan AIDS

HIV Terbukti Secara Ilmiah

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang telah terbukti secara ilmiah dan menjadi perhatian global selama puluhan tahun.

Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, terapi ARV terbukti mampu membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) hidup sehat dan produktif.

“Mudah-mudahan ada tindakan tegas buat yang nyebar informasi HOAX, MENYESATKAN , DAN BERBAHAYA kaya gini,” pungkas dr Adam. (*)

Editor : Miftahul Khair
#dr adam prabata #klaim hiv tidak ada #onat antiretroviral #viral