LPG Nonsubsidi Naik Hampir 19 Persen, Beban Rumah Tangga Kian Berat di Tengah Krisis Energi

Hanif • Dipublikasikan Senin, 20 April 2026 | 09:51 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat doorstop bersama awak media di Jakarta. (JAWA POS)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat doorstop bersama awak media di Jakarta. (JAWA POS)

PONTIANAK POST - Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi kembali menekan rumah tangga. Setelah lebih dari dua tahun relatif stabil, harga LPG 12 kilogram tiba-tiba melonjak hampir 19 persen—menjadi pukulan berat, terutama bagi kelas menengah.

PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kg dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung. Kenaikan sebesar 18,75 persen ini mulai berlaku sejak 18 April 2026 dan menjadi yang pertama sejak 2023. Tak hanya LPG 12 kg, harga LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg juga ikut naik. Dari sebelumnya Rp90 ribu per tabung, kini menjadi Rp107 ribu atau meningkat 18,89 persen.

Berdasarkan informasi resmi, harga tersebut berlaku di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, daerah lain juga mengalami penyesuaian dengan mempertimbangkan biaya distribusi masing-masing wilayah. Kenaikan ini menandai perubahan signifikan setelah sebelumnya, pada November 2023, Pertamina justru menurunkan harga LPG 12 kg sebesar Rp12 ribu menjadi Rp192 ribu per tabung.

Sejumlah faktor global disebut menjadi pemicu utama lonjakan harga tersebut. Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyebut harga LPG sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Data menunjukkan, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 mencapai 102,26 dolar AS per barel. Angka ini melonjak 33,47 dolar AS dibandingkan Februari.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan kenaikan harga minyak tidak lepas dari situasi geopolitik global yang memanas. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung pada pasokan energi dunia.(*)

Salah satu dampak paling signifikan adalah terganggunya jalur distribusi energi global, termasuk penghentian pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi pasokan, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi, termasuk LPG. Kondisi ini membuat beban masyarakat, khususnya pengguna LPG nonsubsidi, semakin berat. Di tengah ketidakpastian global, fluktuasi harga energi diperkirakan masih akan terus berlanjut. (ant)

 

Editor : Hanif
Sumber : Antara
non subsidi lpg Pertamina rumah tangga harga naik