PONTIANAK POST - Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf akhirnya angkat bicara terkait polemik yang menyeret adiknya, mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut).
Dalam podcast Akbar Faizal Uncensored pada (18/4), ia menegaskan sikap tegas: tidak akan menggunakan Nahdlatul Ulama (NU) untuk membela kepentingan pribadi, termasuk urusan keluarga.
Gus Yahya Pilih Jaga NU, Bukan Intervensi Kasus Adik
Dalam pernyataannya, Gus Yahya mengaku menghadapi dilema sebagai kakak sekaligus Ketua Umum PBNU. Namun ia memastikan telah mengambil keputusan yang menurutnya paling tepat.
Baca Juga: PBNU Siapkan Muktamar 2026: Gus Ipul Pimpin Panitia, Ini Jadwal dan Susunan Lengkapnya
“Saya punya pilihan, mau menggunakan kedudukan saya sebagai ketua umum dan NU untuk terlibat dalam urusan itu atau tidak,” tegasnya.
“Kalau saya menggunakan posisi saya dan leverage NU, maka jelas NU yang akan tercederai,” imbuhnya kemudian.
Karena itu, ia memilih tidak membawa organisasi ke dalam persoalan hukum yang dihadapi sang adik.
Serahkan ke Proses Hukum
Gus Yahya menekankan bahwa penanganan kasus Gus Yaqut sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme hukum yang berlaku.
“Saya memilih mengambil jarak dan menyerahkan soal ini kepada proses hukum dan tim hukum yang sudah ditunjuk,” ujarnya.
Sikap ini disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab menjaga marwah organisasi agar tidak terseret kepentingan pribadi.
Taruhannya NU
Bagi Gus Yahya, risiko terbesar bukan sekadar citra pribadi, melainkan integritas NU sebagai organisasi besar di Indonesia.
“Taruhannya adalah NU. Saya tidak boleh menempuh kemungkinan yang bisa menjadikan NU tercederai,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan hal mudah, namun harus diambil demi kepentingan yang lebih besar.
Baca Juga: Status Tahanan Yaqut Berubah, ICW Desak Dewas Periksa Pimpinan KPK Terkait Kasus Haji
Dugaan Serangan Politik? Gus Yahya Enggan Berspekulasi
Dalam perbincangan itu, sempat muncul dugaan bahwa kasus yang menimpa Gus Yaqut berkaitan dengan dinamika internal NU, bahkan disebut-sebut sebagai upaya menggoyang posisi Ketua Umum.
Namun, Gus Yahya memilih tidak berspekulasi.
“Saya serahkan kepada penilaian orang,” ucapnya.
Ia menolak mengaitkan secara langsung kasus tersebut dengan manuver politik tertentu, meski mengakui dinamika di tubuh NU memang sedang tinggi.
Baca Juga: Ulil Abshar Abdalla Bereaksi Keras atas Penahanan Yaqut oleh KPK: “Warga Nahdliyyin Patut Marah”
Konsistensi Jaga Jarak dari Politik Kekuasaan
Sikap Gus Yahya terhadap kasus adiknya dinilai sejalan dengan agenda besar yang ia usung sejak awal kepemimpinannya: menjaga jarak NU dari politik praktis.
Ia berulang kali menegaskan bahwa NU tidak boleh digunakan sebagai alat untuk kepentingan kekuasaan, apalagi kepentingan personal.
“Saya tidak boleh mengambil risiko cideranya NU dengan cara melibatkan diri dalam urusan adik saya,” tukasnya.
Ujian Kepemimpinan di Tengah Gejolak Internal
Kasus Gus Yaqut muncul di tengah dinamika internal NU yang disebut-sebut cukup panas, termasuk isu upaya menggusur kepemimpinan Gus Yahya.
Ia mengakui bahwa transformasi organisasi yang sedang dijalankan memang memicu resistensi.
“Transformasi itu pasti harus melewati pertarungan, ada hal baru yang harus diadopsi dan ada yang lama ditinggalkan,” tutupnya. (*)
Editor : Miftahul Khair