Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

PLTN Pertama di Kalimantan Barat Siap Dibangun Tahun Depan, Uranium Melawi Melimpah Ruah Jadi Cadangan Bahan Baku Nuklir Nasional

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 22 April 2026 | 22:20 WIB
Airlangga Hartarto menyampaikan kesiapan Indonesia membangun PLTN dalam forum internasional UGM Nuclear Readiness Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada (KATGAMA) di Jakarta, Rabu (22/04/2026). (Foto: Kemenko Ekon)
Airlangga Hartarto menyampaikan kesiapan Indonesia membangun PLTN dalam forum internasional UGM Nuclear Readiness Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada (KATGAMA) di Jakarta, Rabu (22/04/2026). (Foto: Kemenko Ekon)

 

PONTIANAK POST - Di tengah desakan krisis energi dan tuntutan emisi nol, Indonesia bersiap mengambil langkah besar: membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama, dengan Kalimantan Barat masuk dalam pusaran rencana strategis itu.

Pemerintah menargetkan keputusan pembangunan PLTN ditetapkan pada 2027, dengan konstruksi dimulai segera setelahnya dan operasi awal pada 2032.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan Indonesia berada di posisi paling siap di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia lebih siap dibandingkan negara ASEAN lainnya dalam hal teknologi, regulasi, dan pembiayaan,” ujarnya dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 di Jakarta, Rabu (22/4).

PLTN diproyeksikan menjadi tulang punggung energi baseload yang stabil, melengkapi energi fosil dan energi baru terbarukan di tengah lonjakan kebutuhan listrik industri.

Fokus pengembangan diarahkan pada teknologi Small Modular Reactor (SMR) yang dinilai lebih fleksibel dan aman.

Pemerintah juga mulai menyiapkan integrasi jaringan listrik pintar (smart grid) untuk menopang kebutuhan sektor masa depan seperti smelter dan pusat data.

Di balik rencana besar ini, Kalimantan Barat muncul sebagai wilayah kunci yang menyimpan harapan sekaligus tantangan.

Pantai Gosong, Kabupaten Bengkayang, masuk kandidat utama lokasi PLTN karena dinilai stabil secara geologi dan minim risiko gempa.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pun telah disusun untuk memastikan aspek keselamatan dan penerimaan masyarakat.

Tak hanya lokasi, Kalbar juga menyimpan kekuatan besar dari sisi bahan baku.

Kabupaten Melawi tercatat memiliki cadangan uranium mencapai 24.112 ton, menjadikannya salah satu penopang utama program nuklir nasional.

Pemerintah kini tengah merampungkan regulasi pengelolaan bahan radioaktif untuk memastikan potensi tersebut dimanfaatkan secara aman dan terukur.

Di tingkat daerah, langkah konkret mulai digerakkan.

Pemerintah Provinsi Kalbar membuka kerja sama internasional, termasuk dengan Rusia melalui Rosatom, guna menjajaki penerapan teknologi SMR.

Gubernur Kalbar, Ria Norsan, menegaskan kesiapan daerah untuk menjadi bagian dari lompatan energi masa depan.

“Kami ingin memastikan Kalbar siap mengadopsi teknologi masa depan yang kompetitif sekaligus ramah lingkungan,” ujarnya.

Di balik ambisi ini, ada pekerjaan besar yang tak kalah penting: membangun kepercayaan publik dan menyiapkan sumber daya manusia.

Pemerintah menargetkan transfer teknologi dan program beasiswa teknik nuklir untuk melahirkan generasi yang mampu mengelola energi berisiko tinggi ini secara aman. (ars/ant)

 


Infografis – Fakta Penting

Poin Keterangan
Target Keputusan 2027 penetapan pembangunan PLTN
Operasional Awal 2032 PLTN pertama mulai beroperasi
Kapasitas Nasional 7 GW energi nuklir pada 2040
Lokasi Strategis Pantai Gosong, Bengkayang
Cadangan Uranium 24.112 ton di Kabupaten Melawi
Target Nasional Net Zero Emission 2060

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#energi nuklir #PLTN Indonesia #nuklir Kalbar #uranium Melawi #Airlangga Hartarto