PONTIANAK POST – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat menuai kritik dari kalangan akademisi.
Sejumlah pakar menilai proyek tersebut belum realistis dan tidak mendesak untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah.
Yanuar Zulardiansyah Arief, pakar teknik elektro dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), menegaskan bahwa PLTN bukan solusi terbaik bagi Kalbar dalam jangka menengah.
“Rencana pembangunan PLTN ini tidak realistis atau bukan solusi terbaik bagi Kalbar, khususnya untuk mengatasi kebutuhan listrik di masa depan,” ujarnya, kepada Pontianak Post belum lama ini.
Surplus Listrik Masih Tersedia
Ia menjelaskan, kondisi kelistrikan di Kalbar saat ini masih dalam posisi surplus.
Beban puncak tercatat sekitar 552 megawatt (MW), sementara kapasitas pembangkit mencapai sekitar 693 MW.
Dengan kondisi tersebut, kebutuhan listrik dinilai masih dapat dipenuhi melalui optimalisasi pembangkit yang ada serta pengembangan energi lain.
Energi Terbarukan Dinilai Lebih Efisien
Menurutnya, peningkatan kapasitas listrik ke depan dapat dilakukan melalui berbagai sumber, seperti PLTU, PLTA, hingga energi terbarukan seperti tenaga surya, biomassa, dan bioenergi.
Ia mencontohkan proyek PLTA Kayan di Kalimantan Utara dengan kapasitas hingga 9.000 MW yang berpotensi memasok listrik ke seluruh Kalimantan melalui jaringan interkoneksi.
Jika dibandingkan, kapasitas PLTN tipe small modular reactor (SMR) hanya sekitar 250 MW, dengan biaya produksi listrik yang jauh lebih tinggi.
Biaya Tinggi dan Risiko Besar
Biaya pokok produksi listrik PLTN SMR diperkirakan mencapai USD 15–19 sen per kWh.
Angka ini lebih mahal dibandingkan PLTA (sekitar USD 8 sen/kWh), PLTS (USD 7,5 sen/kWh), hingga PLTB (USD 3–8 sen/kWh).
Selain itu, pembangunan PLTN juga memerlukan investasi besar, termasuk pengelolaan limbah radioaktif dan biaya pembongkaran fasilitas (decommissioning) yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran dolar AS.
Tantangan Sosial dan SDM
Dari sisi sosial, pro dan kontra di masyarakat dinilai masih kuat.
Hal ini berpotensi memicu konflik dan memperlambat pembangunan.
Sementara itu, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi tantangan.
Ia menilai Kalbar belum memiliki tenaga ahli yang memadai untuk mengelola teknologi PLTN secara mandiri.
Alternatif dari Negara Tetangga
Sebagai perbandingan, Sarawak di Malaysia lebih mengandalkan pembangkit listrik tenaga air, seperti PLTA Bakun berkapasitas sekitar 2.400 MW, yang bahkan mampu mengekspor listrik ke Kalbar.
Jangan Ikut-ikutan
Ia mengingatkan agar Indonesia tidak membangun PLTN hanya karena mengikuti tren global.
“Jangan sampai kita hanya karena merasa tertinggal, padahal banyak negara justru beralih ke energi terbarukan,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia, termasuk Kalbar, memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah dan lebih layak dikembangkan untuk masa depan. (mrd)
INFOGRAFIS
PLTN di Kalbar: Perlu atau Tidak?
| Aspek | PLTN (SMR) | Energi Alternatif (PLTA/PLTS/PLTB) |
|---|---|---|
| ⚡ Kapasitas | ±250 MW | Hingga 9.000 MW (PLTA Kayan) |
| 💰 Biaya Produksi | USD 15–19 sen/kWh | USD 3–8 sen/kWh |
| 🔧 Waktu Pembangunan | Lama (10+ tahun) | Lebih cepat |
| ⚠️ Risiko | Tinggi (limbah, bencana, sosial) | Lebih rendah |
| 👷 SDM | Terbatas di Kalbar | Lebih siap |
| 🌱 Lingkungan | Limbah radioaktif | Lebih ramah lingkungan |
| 🔌 Kondisi Saat Ini | Belum mendesak | Bisa langsung dikembangkan |
KONDISI LISTRIK KALBAR
| Indikator | Data |
|---|---|
| Beban Puncak | 552 MW |
| Kapasitas Pembangkit | 693 MW |
| Status | Surplus ±141 MW |
3 ALASAN UTAMA PLTN DIPERTANYAKAN
| No | Alasan | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| 1 | Surplus Listrik | Kebutuhan masih tercukupi |
| 2 | Biaya Mahal | Lebih tinggi dari energi terbarukan |
| 3 | Risiko Tinggi | Limbah, sosial, dan kesiapan |
Kalbar masih surplus listrik. Dengan biaya tinggi dan risiko besar, PLTN dinilai belum menjadi kebutuhan mendesak dibanding energi terbarukan.