Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemerintah Pasang Alat Sensor untuk Deteksi Karhutla, Bencana Mengintai di Tengah Ancaman El Nino

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 24 April 2026 | 16:54 WIB
Gubernur Kalbar Ria Norsan memegang selang air saat simulasi penanganan kebakaran di sela-sela Apel Kesiapsiagaan Karhutla di halaman Kantor Gubernur Kalbar. (Adpim Pemprov Kalbar)
Gubernur Kalbar Ria Norsan memegang selang air saat simulasi penanganan kebakaran di sela-sela Apel Kesiapsiagaan Karhutla di halaman Kantor Gubernur Kalbar. (Adpim Pemprov Kalbar)

 

PONTIANAK POST - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan memperkuat kerja sama pencegahan karhutla.

Salah satu langkah utama adalah pemasangan alat sensor untuk memantau indikator kekeringan di lahan rawan terbakar.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut teknologi ini menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini.

“Kami sepakat menguatkan perlindungan hutan melalui upaya preventif dan kuratif, termasuk pemasangan sensor dan integrasi data,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/04/2026) dilansir dari ANTARA.

Langkah ini diambil seiring prediksi musim kemarau yang lebih kering pada 2026.

BMKG memperkirakan fenomena El Nino lemah hingga moderat berpeluang terjadi hingga 90 persen pada semester kedua tahun ini.

Ancaman tersebut mulai terlihat dari meningkatnya titik panas.

Hingga 21 April, BMKG mencatat 1.777 titik api di seluruh Indonesia.

Sebaran terbanyak berada di Riau dan Kalimantan Barat.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Selain teknologi sensor, pemerintah juga mengandalkan intervensi cuaca.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk meningkatkan curah hujan di wilayah rawan.

Teknik ini dilakukan dengan menyemai garam ke awan potensial menggunakan pesawat.

“Saat ini OMC dilakukan di Riau dan Kalbar untuk menjaga kelembapan lahan gambut,” kata Faisal.

Langkah tersebut bertujuan meningkatkan tinggi muka air tanah agar lahan tidak mudah terbakar.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya peran BMKG dalam menjaga hutan.

Ia menilai pendekatan berbasis sains menjadi kunci dalam menekan karhutla.

“Kejadian karhutla berpotensi meningkat seiring El Nino, sehingga ketepatan data dan intervensi sangat menentukan,” ujarnya.

Namun upaya ini tidak cukup tanpa peran masyarakat.

Menurutnya, disiplin untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar tetap menjadi faktor penentu.

Di tengah ancaman kemarau, perlindungan hutan kini berpacu dengan waktu.

Sebab sekali api menyala, dampaknya bisa meluas dan menghancurkan kehidupan di sekitarnya. (ant)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#BMKG sensor kekeringan #El Nino Indonesia #kebakaran hutan Kalbar #OMC #Karhutla 2026