PONTIANAK POST - Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menuai sorotan.
Anies Baswedan melalui unggahannya di X pada (26/4) mengingatkan, kebijakan yang terlihat efisien dalam jangka pendek bisa berdampak panjang bagi arah pembangunan bangsa.
Kekhawatiran di Balik Wacana Penutupan Prodi
Dalam unggahannya, Anies menilai wacana tersebut perlu dicermati secara hati-hati. Ia menyinggung potensi dampak jangka panjang yang bisa muncul bila kebijakan pendidikan terlalu berorientasi pada kebutuhan industri saat ini.
Baca Juga: Partai Gerakan Rakyat Dorong Parliamentary Threshold 0 Persen, Anies Soroti Perjuangan Perubahan
“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang,” tulisnya.
Ilmu Murni Bukan Sekadar Teori
Anies menyoroti persepsi yang kerap menganggap ilmu murni tidak relevan dengan dunia praktik. Menurutnya, anggapan itu keliru karena justru dari ilmu dasar lahir berbagai inovasi besar.
“Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal,” jelasnya.
Baca Juga: Polisi Bongkar Kasus Daycare Tanpa Izin di Jogja, 53 Balita Diduga Disiksa Pengasuh
Ia menambahkan, banyak teknologi modern seperti internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan medis berawal dari riset yang tidak didorong kebutuhan pasar, melainkan rasa ingin tahu ilmiah.
Relevansi Tak Selalu Instan
Dalam pandangannya, ukuran relevansi tidak bisa dilihat hanya dari kebutuhan jangka pendek. Apa yang saat ini dianggap tidak berguna, bisa menjadi fondasi penting di masa depan.
“Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya,” ungkapnya.
Risiko Jadi Bangsa Pengguna
Anies juga mengingatkan bahaya jika pendidikan tinggi hanya berfokus pada mencetak tenaga kerja siap pakai tanpa membangun pemikiran dasar.
“Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka,” paparnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat Indonesia lebih bergantung pada impor solusi, alih-alih menciptakan inovasi sendiri.
Baca Juga: Balita di Cianjur Meninggal Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis, Dinkes Lakukan Penyelidikan
Peran Ilmu Dasar dalam Kebijakan Publik
Ia mencontohkan bagaimana ilmu murni berkontribusi besar dalam berbagai kebijakan strategis, mulai dari penanganan pandemi hingga perubahan iklim.
“Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap ‘tidak praktis’,” ujarnya.
Menjaga Keseimbangan Pendidikan
Anies menegaskan bahwa keterhubungan dengan industri tetap penting, namun bukan berarti mengorbankan ilmu murni. Ia mendorong adanya keseimbangan dalam sistem pendidikan tinggi.
“Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan,” terangnya.
Ia menutup dengan penegasan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan industri.
“Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa,” tutupnya.
Editor : Miftahul Khair