PONTIANAK POST - Profesi petani yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi kini kian kehilangan daya tarik di mata generasi muda.
Di tengah gelombang modernisasi, sektor pertanian dianggap kuno dan kurang menjanjikan. Padahal, tanpa regenerasi, ancaman terhadap ketahanan pangan Indonesia semakin nyata.
Petani Menua, Generasi Muda Menjauh
Melansir Batavia Pos, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan rata-rata usia petani Indonesia berada di kisaran 45–55 tahun. Kondisi ini menandakan krisis regenerasi yang serius.
Baca Juga: Sektor Pertanian Bergairah Bikin Untung Petani Naik, HKTI Diminta Turun Tangan Sampai Sawah
Jumlah petani pun terus menyusut. Pada 2013 tercatat sekitar 31,70 juta petani, sementara pada 2023 turun menjadi 29,34 juta atau berkurang 7,45 persen.
Jika tren ini terus berlanjut, sektor pertanian berisiko kehilangan tenaga produktif dalam 10–20 tahun ke depan.
Stigma dan Risiko Jadi Penghambat
Rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian bukan tanpa sebab. Citra sebagai pekerjaan berat, kotor, dan berpenghasilan rendah masih melekat kuat.
Kepala BRMP Bidang Hortikultura, Inti Pertiwi, menyebut stigma tersebut menjadi tantangan utama.
“Mereka menganggap sektor pertanian itu kotor, bukan sektor yang bergengsi, kerjanya di sawah, penghasilannya juga kecil,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan akses modal, lahan yang semakin sempit, hingga fluktuasi harga hasil panen membuat sektor ini dianggap penuh risiko.
Tak heran, banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor industri dan jasa di perkotaan yang dinilai lebih stabil secara finansial.
Teknologi Jadi Kunci Mengubah Persepsi
Untuk menarik minat generasi muda, pendekatan konvensional dinilai tidak lagi relevan. Sektor pertanian harus bertransformasi menjadi lebih modern dan berbasis teknologi.
Konsep smart farming mulai diperkenalkan, seperti penggunaan greenhouse, sistem otomatisasi, hingga alat mesin pertanian berbasis remote control.
Dengan pendekatan ini, pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan kotor. Anak muda bahkan bisa mengelola pertanian secara digital dan efisien.
Baca Juga: Rakor Mitigasi Kekeringan Lahan Pertanian, Bupati Erlina Soroti Anomali Iklim
Peran Pendidikan Sejak Dini
Selain teknologi, pendidikan juga memegang peran penting. Dunia pertanian dinilai perlu dikenalkan sejak usia dini melalui kurikulum sekolah.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menilai pengenalan pertanian sejak sekolah dasar dapat membentuk persepsi positif terhadap sektor ini.
“Kita berikan pemahaman bahwa pertanian bisa modern dan bisa membuat sejahtera,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Kubu Raya Fokus Pemetaan Lahan dan Validasi Data untuk Dongkrak Produktivitas Pertanian
Dengan cara ini, generasi muda diharapkan memiliki gambaran bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi juga bidang yang menjanjikan.
Regenerasi Jadi Kunci Masa Depan
Penurunan jumlah petani dan alih fungsi lahan menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian nasional. Tanpa regenerasi, produktivitas pangan berpotensi terus menurun.
Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto, menilai kebijakan pemerintah juga berpengaruh terhadap minat generasi muda.
Menurutnya, kebijakan impor di masa lalu membuat riset pertanian kurang berkembang, sehingga mahasiswa kurang tertarik mendalami bidang ini.
“Arahan strategi swasembada pangan harus konsisten untuk menarik akademisi melakukan riset di bidang ini,” ujarnya.
Pertanian Harus Jadi Profesi Masa Depan
Upaya regenerasi petani tidak bisa dilakukan setengah hati. Program petani milenial, dukungan riset, hingga akses pembiayaan harus berjalan konsisten dan berkelanjutan.
Jika dikelola dengan baik, sektor pertanian tidak hanya mampu menjamin ketahanan pangan, tetapi juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi generasi muda.
Kini, tantangannya adalah mengubah cara pandang, dari melihat pertanian sebagai pekerjaan terakhir, menjadi profesi masa depan yang modern, menguntungkan, dan bergengsi. (*)
Editor : Miftahul Khair