PONTIANAK POST - Di tengah tumpukan hasil penelitian, ada satu pertanyaan yang menggema: mengapa banyak riset berhenti di rak, tanpa pernah mengubah kehidupan masyarakat?
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai persoalan utama bukan pada kurangnya riset, tetapi pada minimnya relevansi dan pemanfaatannya dalam kebijakan publik.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan riset harus berangkat dari kebutuhan nyata bangsa.
“Riset harus disusun berdasarkan permasalahan nasional agar benar-benar dibutuhkan saat implementasi,” ujarnya dalam forum KONEKSI di Jakarta.
Ia menyebut ilmu pengetahuan seharusnya menjadi kompas pembangunan.
Namun tanpa keterhubungan antara peneliti dan pembuat kebijakan, hasil riset sulit diwujudkan menjadi keputusan nyata.
Pungkas mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam menjembatani riset dan kebijakan.
Pertama, periset harus memastikan hasilnya relevan dengan kebutuhan.
Kedua, pemerintah sebagai pengguna harus siap memanfaatkan hasil tersebut.
Ketiga, riset perlu diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami dalam konteks kebijakan.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam perencanaan pembangunan.
Selain itu, momentum menjadi faktor krusial agar riset hadir tepat saat dibutuhkan pengambil keputusan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Fauzan Adziman menyoroti pentingnya kolaborasi dengan industri.
Menurutnya, kemitraan menjadi kunci agar riset tidak berhenti sebagai teori.
Pemerintah telah mengembangkan program seperti “Ajakan Industri” dan “Dorongan Teknologi” untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan inovasi kampus.
Hasilnya mulai terlihat.
Sepanjang 2022 hingga 2025, tercatat 3.653 kolaborasi riset dengan 2.734 mitra telah didanai.
Total investasinya mencapai Rp3 triliun.
Menariknya, 53 persen pendanaan berasal dari industri, sementara 47 persen dari pemerintah.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa riset yang relevan akan lebih mudah diterima dan didukung pasar.
“Ketika industri melihat manfaatnya, mereka akan semakin banyak berinvestasi,” ujar Fauzan. (ant)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro