PONTIANAK POST - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong Geopark Nasional Tambora untuk memperoleh status UNESCO Global Geopark (UGGp). Dorongan ini muncul setelah Bappenas mengirim surat kepada Bappeda NTB pada 1 April terkait seleksi kandidat aspiring UGGp.
“Surat resmi kami terima dari pusat,” jelas General Manager Geopark Nasional Tambora, Makdis Sari, Senin (27/4).
Bappeda NTB kemudian mengadakan diskusi dengan pihak terkait dan memutuskan untuk maju dalam proses ini. “Semua sepakat untuk maju,” ujarnya.
Pada 10 April, Bappeda NTB mengirim surat pernyataan kesiapan kandidat Aspiring UGGp. Geopark Tambora kini bersaing dengan sejumlah geopark lain di Indonesia.
Dari 11 geopark nasional peserta seleksi, hanya empat yang lolos tahap penyaringan, yaitu Geopark Tambora, Maninjau, Sawahlunto, dan Natuna. “Dari empat ini nanti akan dipilih dua geopark yang mewakili Indonesia ke UNESCO,” terang Makdis.
Makdis menjelaskan sejumlah keunggulan Tambora yang mendukung pengajuan status UGGp. Kawasan ini memiliki dua gunung api dengan tingkat alkali tinggi, Tambora dan Soromandi, fenomena yang sangat langka di dunia.
Baca Juga: Akhirnya Orang Rimba Turun Tangan, Jadi Garda Depan Cegah Karhutla
Selain itu, letusan Tambora tahun 1815 memiliki nilai ilmiah global karena memicu fenomena The Year Without Summer di Eropa.
Keunikan lain meliputi Doro Binte, gunung sinder, dan Pulau Satonda yang menyimpan stromatolit, tumbuhan purba yang hanya ada di Australia dan Tambora. Keistimewaan ini menjadikan Tambora unggul dalam kriteria geopark internasional. “Tambora itu sebenarnya sudah mendunia sejak dulu,” tambahnya.
Selain aspek geologi, kawasan ini strategis secara ekonomi, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Integrasi geologi, hayati, dan budaya, serta status Taman Nasional Tambora, Taman Nasional Moyo Satonda, dan Cagar Biosfer Samota, semakin memperkuat posisi Tambora sebagai kandidat geopark dunia. Masyarakat lokal juga merasakan manfaat dari pariwisata, konservasi, dan edukasi.
Saat ini, Bappeda NTB tengah melengkapi dokumen pengajuan, termasuk surat rekomendasi gubernur, laporan Geopark Nasional 2025, dan Form A UGGp. Dokumen ini akan diserahkan ke Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) sebelum 30 April. “Insyaallah ini bisa kita kejar,” ujar Makdis.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda NTB, Iskandar Zulkarnain, menekankan revalidasi dan peningkatan status Tambora sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi internasional. Sinergi lintas sektor sangat diperlukan untuk memenuhi standar UNESCO.
Ia menambahkan, pengalaman pengelolaan Geopark Rinjani dijadikan referensi dalam memperkuat pengelolaan Tambora, mulai dari kelembagaan hingga pengembangan destinasi. Iskandar menekankan kontribusi seluruh OPD Pemprov NTB untuk melengkapi data dukung, yang menjadi bahan evaluasi tim nasional dan internasional.
“Ini bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga peluang besar untuk meningkatkan daya saing pariwisata dan ekonomi NTB,” pungkasnya. (*)
Editor : Basilius Andreas Gas