Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kabar Bahagia, 1.720 Dapur MBG yang Disetop Ternyata Tetap Terima Rp6 Juta per Hari

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 28 April 2026 | 22:38 WIB

 

Ilustrasi Dapur MBG
Ilustrasi Dapur MBG

 

PONTIANAK POST - Kabar bahagia untuk dapur MBG yang di-suspend. Sebanyak 1.720 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia yang disetop sementara, masing-masing tetap menerima dana Rp6 juta per hari.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengonfirmasi kebijakan tersebut.

Ia menyebut insentif tetap diberikan meski aktivitas dapur dihentikan sementara.

“Untuk yang sementara tetap diberi (insentif Rp6 juta per hari),” kata Dadan kepada wartawan usai meresmikan pembangunan SPPG Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Selasa (28/4).

Menurut Dadan, penghentian operasional bukan berarti seluruh aktivitas berhenti total.

Ia berdalih, pengelola SPPG masih menjalankan sejumlah kegiatan, termasuk pelatihan karyawan serta penyesuaian sistem operasional selama masa penutupan.

“Karena mereka tetap mengurus hal-hal lain. Karyawan juga diberi pelatihan dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan saat penutupan,” jelasnya.

Data hingga April 2026 mencatat sebanyak 1.720 SPPG dihentikan sementara.

Penutupan dilakukan karena belum terpenuhinya sejumlah persyaratan penting, seperti dokumen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Sekarang berkurang sedikit, sekitar 1.720-an,” ungkap Dadan.

Ia menegaskan, SPPG yang mampu melengkapi persyaratan tersebut dapat segera kembali beroperasi. Bahkan, proses pengaktifan kembali disebut tidak memakan waktu lama.

“Kalau kualitasnya bagus, layanannya baik, dan menunya memenuhi standar, mudah-mudahan sertifikat bisa keluar dalam waktu sebulan sehingga tidak perlu lama diberhentikan,” tambahnya.

Di sisi lain, Dadan juga menghadiri peresmian SPPG Tamalanrea 14 yang diinisiasi Universitas Hasanuddin.

Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Rektor Unhas Jamaluddin Jompa.

Ia menyebut kehadiran SPPG di Unhas menjadi tonggak penting, khususnya sebagai pelopor di perguruan tinggi negeri kawasan Indonesia Timur.

“Di IPB sudah ada, di beberapa perguruan tinggi swasta juga sudah ada. Tapi ini yang pertama di PTN di Indonesia Timur. Unhas selalu menjadi yang terdepan,” ujarnya.

Dadan menilai fasilitas SPPG Unhas tergolong lengkap, mulai dari proses produksi hingga pengolahan limbah. Salah satu keunggulannya adalah penggunaan teknologi reverse osmosis yang menghasilkan air murni siap konsumsi.

“Aspek keamanan air sangat penting. Selama ini kualitas air sering menjadi penyebab gangguan pencernaan. Dengan teknologi ini, saya kira bisa menjadi contoh,” pungkasnya. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#dadan hindayana #Rp6 juta #Mbg #SPPG #insentif