Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah di Balik Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, Sopir Taksi: “Mobil Ngonci di Rel”, Guru SD Jadi Korban

Hanif • Rabu, 29 April 2026 | 06:24 WIB
Warga mengamati taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan dengan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH)
Warga mengamati taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan dengan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH)

PONTIANAK POST - Mobil yang tiba-tiba terkunci di atas rel menjadi awal dari tragedi maut di Bekasi Timur. Hal lain adalah ketiadaan palang pintu, sehingga kendaraan bisa melintas bebas di saat kereta hendak melaju di rel.

Lampu perlintasan mulai berkedip, suara rel bergetar semakin dekat. Di balik kemudi, sang sopir taksi hanya punya hitungan detik. Ia mencoba menginjak pedal, memutar kunci, berharap mobilnya bergerak. Namun yang terjadi justru sebaliknya—kendaraan mendadak terkunci. Di tengah kepanikan, suara kereta yang meraung kian mendekat.

Satu pengakuan singkat dari sopir taksi itu kini menjadi sorotan utama dalam tragedi maut di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi syok, ia mengaku mobil yang dikemudikannya tiba-tiba terkunci dan mati tepat di atas rel—beberapa detik sebelum bencana terjadi.

Video pengakuan sopir taksi Green SM itu viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, ia terlihat masih terguncang saat menjelaskan apa yang dialaminya sesaat sebelum insiden. “Ini ngonci langsung, jadi kita mau jalanin nggak bisa. Pas posisi kereta lewat, mobil mati,” ujarnya.

Baca Juga: Tragedi Kecelakaan KRL vs Argo Bromo di Bekasi, Korban Selamat Terjebak 9 Jam di Gerbong

Pengakuan itu kini menjadi salah satu potongan penting dalam rangkaian peristiwa yang berujung pada tabrakan beruntun antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin malam (27/4).

Berdasarkan kronologi awal, mobil taksi listrik tersebut diduga mengalami gangguan saat melintas di perlintasan sebidang di kawasan Bekasi Timur. Kendaraan berhenti tepat di jalur rel dan tidak dapat dipindahkan.

Dalam situasi kritis itu, KRL Commuter Line yang melintas tidak sempat menghindar dan menabrak kendaraan tersebut. Rangkaian KRL kemudian berhenti di jalur.

Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di lintasan sama tidak sempat berhenti sempurna dan menghantam bagian belakang KRL. Tabrakan beruntun pun tak terelakkan.

Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya.

Baca Juga:  Arsenal vs Atletico Madrid: Griezmann & Koke Ingin Kado Juara Liga Champions

Pihak Green SM Indonesia membenarkan keterlibatan kendaraan mereka dalam kejadian tersebut. Dalam keterangan resmi, perusahaan menyatakan mobil tidak sedang membawa penumpang saat insiden terjadi.

“Pada saat kejadian, tidak terdapat penumpang di dalam kendaraan dan mitra pengemudi dapat keluar dengan selamat sebelum terjadinya tabrakan,” demikian pernyataan resmi perusahaan.

Green SM juga menegaskan telah menyerahkan informasi yang diperlukan kepada pihak berwenang dan mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung.

Sementara itu, investigasi teknis terhadap kendaraan masih terus dilakukan. Pihak produsen kendaraan listrik yang digunakan, VinFast, menyatakan belum dapat menyampaikan detail penyebab gangguan karena proses penyelidikan masih berjalan.

 

Tidak Ada Palang Pintu

Di tengah sorotan terhadap sopir dan kendaraan, muncul persoalan lain yang tak kalah krusial: kondisi perlintasan sebidang.

Baca Juga: Teror Setahun di Air Upas: Pelaku Masih Bebas, Warga Bongkar Rumah Sendiri

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, menyebut kecelakaan tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perlintasan yang tidak dilengkapi palang pintu.

“Kejadian ini tidak berdiri sendiri. Ada pemicunya, diawali dari perlintasan yang tidak ada palang pintu, kemudian berujung tabrakan beruntun,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah tengah didorong mempercepat pembangunan flyover di kawasan tersebut guna mengurangi risiko serupa di masa depan.

Komisaris Utama PT KAI, Said Aqil Siradj, menegaskan bahwa penyediaan palang pintu merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, bukan operator kereta.

“Bikin palang pintu bukan kewajiban KAI, itu kewajiban pemerintah daerah,” tegasnya.

Baca Juga: Simeone Ambisius Jelang Semifinal: Atletico Madrid Siap Sakiti Arsenal

Presiden Prabowo Subianto turut menyoroti persoalan ini. Ia mengungkapkan terdapat sekitar 1.800 perlintasan sebidang di Pulau Jawa yang masih berisiko tinggi.

Pemerintah berencana menggelontorkan anggaran hingga Rp4 triliun untuk membangun pos jaga maupun flyover sebagai upaya meningkatkan keselamatan transportasi.

 

Guru Jadi Korban

Duka mendalam menyelimuti rumah sederhana di Kampung Ceger, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Nurlaela (40), seorang guru yang dikenal pendiam dan berdedikasi, menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi tersebut.

Sejak pagi, pelayat berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Isak tangis keluarga mengiringi prosesi pemakaman yang berlangsung tak jauh dari rumah duka.

Sehari-hari, almarhumah adalah guru PNS di SDN Pejagan 11, Pulogebang, Jakarta Timur. Rutinitasnya sederhana—berangkat dan pulang mengajar menggunakan KRL.

Baca Juga: Air Upas dalam Cengkeraman Sabu: Empat Bulan Delapan Kasus, Belasan Orang Ditangkap, Termasuk Anak di Bawah Umur

“Setiap hari naik kereta, pagi berangkat, sore pulang,” ujar Mulyadi, paman korban.

Kekhawatiran keluarga muncul saat Nurlaela tak kunjung pulang. Telepon genggamnya justru diangkat oleh petugas yang menemukan perangkat tersebut di lokasi kejadian.

Kepastian nasibnya baru diketahui sekitar pukul 01.00 dini hari. Jenazah kemudian dibawa pulang ke rumah duka.

“Jam satu kami baru ketemu, lalu langsung diurus. Sampai rumah sekitar jam tiga pagi,” tutur Mulyadi.

Di mata keluarga, Nurlaela dikenal sebagai sosok pekerja keras dan berdedikasi. Tiga bulan sebelum kejadian, ia baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.

Baca Juga: Sumbangan dengan Paksaan Tuai Sorotan, Batas Tipis Antara Solidaritas dan Pungli

Kini, perjalanan hidupnya terhenti. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan para muridnya.

 

Usulan Evaluasi Gerbong Wanita

Pasca kejadian, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan evaluasi tata letak gerbong khusus wanita pada KRL.

Ia menyarankan agar gerbong wanita dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta guna meminimalkan risiko fatal saat terjadi benturan.

“Kalau bisa yang perempuan ditaruh di tengah, jadi lebih aman,” ujarnya.

Usulan tersebut akan didorong untuk dibahas bersama PT KAI sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh sistem keselamatan perkeretaapian. (zak/ris/oni)

Editor : Hanif
#Mobil taksi #KRL #KA Agro Bromo #Rel #tabrakan