PONTIANAK POST - Gelombang kemarahan publik atas dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Kota Jogja, meluap hingga ke dinding bangunan. Coretan bernada kecaman memenuhi hampir seluruh bagian gedung, menjadi simbol protes sekaligus luka sosial yang belum mereda.
Pantauan di lokasi pada Selasa (28/4), bangunan yang beralamat di Jalan Pakel Baru Utara, Sorosutan, Umbulharjo itu dipenuhi tulisan bernada kasar dan emosional. Di pintu garasi, cat hitam mencoretkan kalimat “Asu” dan “Tidak Ada Rasa Kemanusiaan”. Pada tembok sisi utara, tertulis “Anak Jadi Korban”, sementara pintu masuk tak luput dari coretan serupa.
Di sisi selatan bangunan, dua unit sepeda motor yang terparkir juga terkena cipratan cat hitam. Meski demikian, garis polisi masih terpasang utuh di sejumlah titik, menandakan lokasi tersebut tetap dalam pengawasan aparat.
Aksi vandalisme ini terjadi tak lama setelah kepolisian menetapkan 13 tersangka dalam kasus dugaan kekerasan anak di daycare tersebut. Mereka terdiri dari DK selaku ketua yayasan, AP sebagai kepala sekolah, serta 11 pengasuh lainnya.
Baca Juga: Polisi Bongkar Kasus Daycare Tanpa Izin di Jogja, 53 Balita Diduga Disiksa Pengasuh
Pihak Kelurahan Sorosutan mengaku belum mengetahui siapa pelaku pencoretan. Lurah Sorosutan, Muhammad Zulazmi, mengatakan informasi pertama diterima dari aparat setempat pada siang hari. “Diduga peristiwa terjadi pada malam atau dini hari. Namun sampai sekarang pelaku belum diketahui, masih orang tidak dikenal,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, keterbatasan bukti menjadi kendala utama. Di sekitar lokasi tidak terdapat kamera pengawas (CCTV) yang dapat membantu mengidentifikasi pelaku. “Bhabinkamtibmas menyampaikan tidak ada informasi terkait pelaku dan tidak ada CCTV di sekitar lokasi,” katanya.
Zulazmi juga menyebut, warga sekitar tidak mengetahui secara pasti kejadian tersebut. Tidak ada saksi yang melihat langsung aksi vandalisme yang terjadi di bangunan daycare itu.
Sebagai langkah antisipasi, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan pengurus RT dan RW setempat untuk meningkatkan pengawasan. Warga diminta segera melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan.
Di sisi lain, pemerintah kelurahan memastikan seluruh daycare di wilayah Sorosutan telah memiliki izin operasional. Pendataan dilakukan menyusul arahan pemerintah kota. “Dari laporan pemantauan mandiri melalui RW, seluruh daycare di wilayah kami sudah berizin,” jelasnya.
Baca Juga: 44 Persen Daycare Tak Berizin, KPAI Ungkap Kekerasan Anak sebagai Fenomena Gunung Es Nasional
Menanggapi situasi yang memanas, Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan anarkis. “Saya memahami emosi orang tua dan masyarakat. Namun kami mohon untuk bersabar. Keadilan sedang diupayakan dan ditegakkan,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya mempercayakan proses hukum kepada aparat penegak hukum. Masyarakat diminta mengawal kasus tanpa melakukan aksi yang berpotensi menimbulkan masalah baru. “Jangan main hakim sendiri supaya tidak muncul persoalan baru,” tegasnya. Untuk mencegah kejadian serupa, Pemerintah Kota Jogja berencana memperketat pengamanan di lokasi dengan menurunkan personel Satpol PP. (jpc)
Editor : Hanif