Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pertegas Hilirisasi Pertanian, Presiden Prabowo Janji Nilai Tambah Nyata bagi Petani

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 29 April 2026 | 22:08 WIB
Presiden Prabowo meresmikan proyek hilirisasi, simbol perubahan nasib petani dari penjual bahan mentah menjadi pelaku industri bernilai tambah.
Presiden Prabowo meresmikan proyek hilirisasi, simbol perubahan nasib petani dari penjual bahan mentah menjadi pelaku industri bernilai tambah.

 

PONTIANAK POST - Di balik tumpukan hasil panen yang kerap tak terserap dan harga yang jatuh, ada luka lama petani yang kini ingin dihentikan negara lewat hilirisasi.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan, hilirisasi pertanian bukan sekadar program ekonomi, melainkan upaya mengembalikan hak petani atas nilai tambah yang selama ini hilang.

Ia menyebut Indonesia terlalu lama terjebak sebagai pemasok bahan baku, sementara keuntungan besar justru dinikmati pihak lain di luar negeri.

“Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita tidak mau hanya menjual buah kelapa. Kita mau olah turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati rakyat,” tegasnya saat meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi fase II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

Bagi Prabowo, hilirisasi adalah jalan memutus rantai ketidakadilan yang selama ini menekan petani, nelayan, dan buruh.

Ia menyoroti kenyataan pahit saat panen melimpah justru berujung kerugian karena hasil tak terserap atau harga anjlok di tangan tengkulak.

“Sudah terlalu lama petani Indonesia, nelayan Indonesia, buruh Indonesia tidak menikmati kesejahteraan yang layak,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, kini mulai membenahi tata kelola agar ada kepastian pasar bagi hasil produksi rakyat.

Ia memastikan sistem offtake diperkuat, sehingga hasil panen tidak lagi terbuang sia-sia.

“Petani yang panennya tidak dibeli, rusak di kebun, atau dihargai murah, tidak mungkin sejahtera. Sekarang kita ubah. Berapa pun yang dihasilkan akan diserap bangsa sendiri,” tegasnya.

Dalam proyek hilirisasi fase II, sektor pertanian mendapat porsi strategis.

Beberapa di antaranya adalah pengolahan minyak sawit menjadi oleofood dan biodiesel di KEK Sei Mangkei, pengolahan pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah dengan kapasitas 2.560 ton per tahun, serta fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi berkapasitas 300 ribu butir per hari.

Prabowo menilai langkah ini sebagai bukti bahwa pertanian tidak lagi sekadar sektor hulu, tetapi bisa menjadi penggerak industri nasional.

Ia juga menekankan bahwa keberanian bangsa ditentukan dari kemampuannya menguasai dan mengolah sumber daya sendiri.

“Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terus menjadi “ladang” bagi negara lain.

Nilai tambah, menurutnya, harus kembali ke tangan rakyat Indonesia.

“Hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa. Kita tidak mau jadi sawahnya orang lain,” ujarnya.

Ia pun mengajak ilmuwan, teknokrat, dan generasi muda untuk mengambil peran dalam memperkuat hilirisasi.

“Gunakan kepandaian untuk memperkuat bangsa, bukan untuk memperkaya bangsa lain,” pesannya.

Groundbreaking ini menjadi bagian dari agenda besar hilirisasi nasional yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, dan memastikan kekayaan alam benar-benar dinikmati rakyat. (ars)

 

Infografis – Fakta Penting

Poin Keterangan
Nilai Proyek Rp116 triliun
Jumlah Proyek 13 proyek hilirisasi fase II
Fokus Utama Hilirisasi sektor pertanian dan industri turunan
Komoditas Kelapa, sawit, pala, rempah
Dampak Nilai tambah, serapan tenaga kerja, kepastian pasar
Lokasi Kunci Cilacap, Sumatera Utara, Maluku Tengah

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#hilirisasi pertanian #nilai tambah petani #proyek hilirisasi #Prabowo Subianto #ekonomi indonesia