PONTIANAK POST - Tragedi tabrakan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin 27 April 2026, masih menyisakan duka mendalam.
Data terbaru mencatat sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya luka-luka dan masih menjalani perawatan intensif.
Salah satu korban selamat, Sausan Sarifah (29), membagikan kesaksian mencekam saat dirinya terjebak di dalam gerbong yang terhimpit penumpang lain.
Baca Juga: B50 Kini Diuji Coba di Kereta Api: Siap-siap, Revolusi Energi Indonesia Dimulai Juli
Ia mengaku tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri ketika benturan keras terjadi secara tiba-tiba.
“Saya pikir saya meninggal,” kata Sausan dalam unggahan yang dikutip dari Instagram @cretivox.
Dalam kondisi panik dan sesak, Sausan menyebut guncangan saat tabrakan terasa seperti gempa besar yang membuat seluruh penumpang kehilangan kendali.
Ia juga menyaksikan langsung situasi di dalam gerbong yang berubah menjadi kepanikan massal dalam hitungan detik.
Baca Juga: Ambisi Besar Kereta Api Kalimantan, Proyek 2.772 Km Siap Dorong Hilirisasi dan Efisiensi Distribusi
Sausan menuturkan, suara benturan keras datang secara tiba-tiba tanpa peringatan.
“Tiba-tiba suara kereta lokomotif itu kenceng banget, langsung (menabrak),” ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada kesempatan bagi penumpang untuk menghindar atau keluar dari kereta saat insiden terjadi.
Di tengah kondisi terjepit, Sausan menggambarkan dirinya tertimpa penumpang dan barang-barang di sekitarnya.
Dalam keadaan sulit bernapas, ia hanya bisa berdoa sambil menunggu proses evakuasi.
“Kalau evakuasinya lama, kita bisa kehabisan napas,” ungkapnya.
Ia juga mengaku syok ketika melihat sejumlah korban di sekitarnya mulai tidak sadarkan diri hingga kejang-kejang.
Sausan kemudian menyampaikan doa bagi para korban yang meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
“Semoga husnul khotimah dan keluarga diberi ketabahan,” tutupnya.(*)
Editor : Budi Miank