Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pidato Megawati Soroti Hukum Tak Adil hingga Mental Bangsa Melemah, Singgung Keadilan yang Kian Hilang

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 4 Mei 2026 | 14:31 WIB
Megawati Soekarno Putri pada acara pengukuhan Profesor Emeritus Arief Hidayat di Universitas Borobudur. (YOUTUBE)
Megawati Soekarno Putri pada acara pengukuhan Profesor Emeritus Arief Hidayat di Universitas Borobudur. (YOUTUBE)

 

PONTIANAK POST - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri melontarkan kritik tajam terhadap kondisi hukum di Indonesia dalam orasi kebangsaan pada acara pengukuhan Profesor Emeritus Arief Hidayat di Universitas Borobudur, Sabtu (2/5).

Megawati menilai praktik hukum saat ini kerap kehilangan rasa keadilan dan menjauh dari nilai-nilai Pancasila.

Keadilan Sekarang Seperti Tidak Ada

Dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Borobudur Hukum Channel, Megawati menyoroti kondisi penegakan hukum yang menurutnya tidak lagi mencerminkan keadilan substantif.

Baca Juga: Megawati Hangestri Mundur dari Timnas Voli Putri, Ini Alasan Lengkapnya

Ia bahkan menyebut, hukum saat ini cenderung hanya menjadi formalitas tanpa mempertimbangkan hati nurani.

“Sekarang ini keadilan itu seperti tidak ada. Tidak berkeadilan,” tegasnya.

Megawati mempertanyakan sejumlah praktik hukum, termasuk proses peradilan yang dinilai tidak konsisten serta kecenderungan penggunaan kekuasaan dalam penegakan hukum.

Baca Juga: Megawati Serukan Kemerdekaan Palestina dalam Peringatan KAA ke-70

Pancasila Harus Kembali Jadi Roh Hukum

Sebagai Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati menekankan bahwa Pancasila seharusnya menjadi sumber utama dalam seluruh sistem hukum di Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa hukum tidak boleh hanya menjadi kumpulan pasal, tetapi harus hidup dan berpihak pada rakyat.

“Hukum itu harus menjadi alat untuk keadilan, bukan alat kekuasaan,” ujarnya.

Megawati juga menilai, lemahnya pemahaman sejarah perjuangan bangsa menjadi salah satu penyebab menurunnya semangat kebangsaan saat ini.

Soroti Keberanian Akademisi dan Penegak Hukum

Dalam forum akademik tersebut, Megawati secara terbuka menantang para akademisi dan penegak hukum untuk lebih berani menyuarakan kebenaran.

Ia menyayangkan sikap diam yang menurutnya justru membuat ketidakadilan terus berlangsung.

“Keberanian masyarakat sekarang seperti senyap,” katanya.

Menurutnya, kaum intelektual tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus menjadi penggerak perubahan.

Baca Juga: Megawati Menangis Saat Hasto Datang ke Kongres PDIP, Jabatan Sekjen Masih Kosong

Singgung Kasus Nyata dan Ketimpangan Hukum

Megawati turut menyinggung sejumlah fenomena hukum yang dinilainya janggal, termasuk penanganan kasus yang dianggap tidak transparan hingga perbedaan perlakuan dalam sistem peradilan.

Ia mempertanyakan apakah hukum di Indonesia benar-benar memberikan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan.

“Setiap warga negara punya hak yang sama di mata hukum. Tapi apakah itu sudah berjalan?” ucapnya.

Seruan Kembali ke Semangat Perjuangan

Di akhir pidatonya, Megawati mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan dan nilai-nilai Pancasila.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan pengorbanan besar, sehingga tidak boleh disia-siakan. “Masukkan ke dalam dada api yang tak kunjung padam, yaitu Pancasila dan keadilan,” pesannya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Pidato #hukum indonesia #megawati