Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hilirisasi Dinilai Kunci Naikkan Nilai Tambah Ekonomi Kalimantan

Chairunnisya • Rabu, 6 Mei 2026 | 13:25 WIB
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM)
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM).

PONTIANAK POST - Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof Gunawan Prayitno, menilai hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi di Kalimantan.

Selama ini, wilayah tersebut masih didominasi aktivitas berbasis komoditas mentah seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, energi, dan logistik.

Menurut Gunawan, hilirisasi merupakan proses mengubah komoditas mentah menjadi produk olahan bernilai tambah.
 
Implementasinya melibatkan berbagai pihak, mulai dari pelaku industri, pemerintah, hingga komunitas lokal berbasis komoditas unggulan.
Baca Juga: Pemerintah Tancap Gas Hilirisasi, Prabowo Subianto Resmikan 13 Proyek Strategis Nasional
 
“Kalimantan punya basis sumber daya alam yang sangat kuat. Tantangan utamanya adalah mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya saat kegiatan Capacity Building Opinion Marker Wilayah Kalimantan yang diselenggarakan Bank Indonesia, Rabu (6/5) di Hotel Santika, Malang.
 
Ia menjelaskan, tujuan utama hilirisasi adalah meningkatkan nilai tambah domestik, memperluas basis industri, menciptakan lapangan kerja, serta mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.
 
Selain itu, hilirisasi juga diharapkan mampu memperkuat daya saing dan kemandirian ekonomi daerah.
 
Baca Juga: Pertegas Hilirisasi Pertanian, Presiden Prabowo Janji Nilai Tambah Nyata bagi Petani
 
Gunawan menekankan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor krusial dalam mendukung hilirisasi.
 
Sumber daya manusia yang terlibat di berbagai sektor harus dipersiapkan dan dikembangkan agar mampu mengisi kebutuhan industri berbasis pengolahan.
 
Di negara maju, kata dia, hilirisasi tidak hanya berhenti pada proses produksi, tetapi juga mencakup inovasi, teknologi, riset dan pengembangan (R&D), hingga penguatan merek. 
 
Hal ini menjadikan hilirisasi sebagai bagian dari transformasi menuju industri manufaktur berteknologi tinggi.
 
Baca Juga: Dari Pelabuhan Kijing, Kalbar Dorong Ekspor dan Hilirisasi Nasional via PTP Nonpetikemas
 
“Nilai tambah di negara maju datang dari desain, teknologi, efisiensi, dan branding, dengan tujuan akhir daya saing global dan kepemimpinan industri,” jelasnya.
 
Sementara di negara berkembang, hilirisasi umumnya difokuskan pada peningkatan nilai tambah komoditas primer dan mengurangi ekspor bahan mentah.
 
Gunawan mencontohkan Kanada yang memiliki sumber daya kayu melimpah, namun sebagian besar aktivitas bernilai tambah tinggi justru dilakukan di luar wilayah penghasil bahan baku.
 
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi Kalimantan agar tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah.
 
Baca Juga: Dari Pelabuhan Kijing, Kalbar Dorong Ekspor dan Hilirisasi Nasional via PTP Nonpetikemas
 
Ia mendorong seluruh wilayah di Kalimantan untuk mengakselerasi hilirisasi demi meningkatkan pendapatan daerah.
 
“Hilirisasi yang berhasil bukan hanya mengubah bahan mentah jadi produk, tapi memastikan produk itu bernilai, diperlukan, dipercaya, dan dipilih konsumen,” tegasnya.
 
Dari sisi dampak, hilirisasi dinilai mampu meningkatkan serapan tenaga kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
 
Komoditas seperti pertanian dan perkebunan, termasuk kelapa sawit, disebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi.
 
Secara regulasi, Gunawan menyebut hilirisasi telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), sehingga menjadi prioritas nasional.
 
Baca Juga: Ambisi Besar Kereta Api Kalimantan, Proyek 2.772 Km Siap Dorong Hilirisasi dan Efisiensi Distribusi
 
Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk belum optimalnya kawasan industri seperti KEK Maloy.
 
Ia menilai, peningkatan jumlah investor menjadi salah satu kunci percepatan hilirisasi.
 
Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mempermudah investasi agar pelaku usaha tidak ragu menanamkan modal.
 
Selain itu, peran Bank Indonesia juga dinilai penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, khususnya melalui pengendalian inflasi dan stabilitas keuangan yang dapat mendukung iklim investasi di daerah.
 
Baca Juga: Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN Perkuat Sinergi Riset untuk Dukung Swasembada Pangan dan Hilirisasi
 
Meski demikian, Gunawan mengungkapkan bahwa pihaknya masih melakukan kajian untuk menghitung secara pasti kontribusi hilirisasi terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah di Kalimantan.
 
“Secara jumlah masih kami kalkulasi. Nanti hasilnya akan kami publikasikan agar bisa diketahui dampaknya bagi pemerintah daerah hingga tingkat kabupaten,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, kebijakan di tingkat provinsi diharapkan mampu menarik implementasi di level kabupaten, sehingga dampak hilirisasi dapat dirasakan secara merata.
 
Gunawan menegaskan, transformasi struktur ekonomi Kalimantan menjadi keharusan agar tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah. (*)
Editor : Chairunnisya
#sumber daya alam #Ekonomi #kalimantan #industri #hilirisasi