PONTIANAK POST — Sebanyak 118 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai daerah di Indonesia bertemu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam forum dialog terbuka, Rabu (6/5). Pertemuan ini membahas beragam program prioritas pemerintah, mulai dari pembangunan sektor pertanian, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa yang menyampaikan kritik, masukan, hingga temuan di lapangan. Suasana forum juga diwarnai antusiasme tinggi dengan seruan dukungan yang mencerminkan keterlibatan generasi muda dalam mengawal kebijakan publik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi sikap kritis mahasiswa yang dinilainya tetap konstruktif dan solutif.
Baca Juga: Soliditas Alumni Menguat, Mentan Andi Amran Sulaiman Kembali Pimpin IKA Unhas Secara Aklamasi
“Saya salut pada BEM, mahasiswa yang hadir hari ini. Cukup kritis tapi konstruktif. Bukan fitnah, kritis tapi konstruktif. Dan ini sangat bagus kita bangun komunikasi seperti ini,” kata Mentan Amran.
Dalam pemaparannya, Mentan Amran menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi desa.
“MBG ini jangan dilihat berdiri sendiri. Ini menjadi offtaker bagi 160 juta petani Indonesia. Ekonomi desa bergerak, pasar hidup, dan anak-anak kita ke depan lebih cerdas karena gizinya terpenuhi,” jelasnya.
Selain itu, penguatan Koperasi Desa Merah Putih menjadi strategi untuk memperbaiki rantai pasok pangan agar lebih efisien dan memberikan nilai tambah bagi petani.
Baca Juga: Mentan Amran: Swasembada Pangan Indonesia Diakui Dunia, Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah
“Selama ini komoditas pertanian harus melalui 8 tahap untuk sampai ke konsumen, sementara dengan Kopdes nantinya memutus rantai yg selama ini dinikmati middleman hingga 336 trilliun per tahun,” tegas Mentan Amran.
Ia juga memaparkan capaian sektor pertanian nasional yang disebut mengalami peningkatan signifikan, khususnya dalam hal produksi dan cadangan pangan.
“Stok kita beras tertinggi selama merdeka, 5 juta ton lebih. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dulu hanya sekitar 2,6 juta ton, sekarang sudah di atas 5 juta ton,” tegasnya.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penguatan sistem logistik dan cadangan pangan nasional, bahkan di tengah tekanan global seperti krisis pangan dan gangguan rantai pasok.
Berdasarkan standar Food and Agriculture Organization (FAO), suatu negara dinilai swasembada jika impor pangan pokok berada di bawah 10 persen dari kebutuhan nasional. Indonesia pada periode 2025–2026 mencatat impor kurang dari 5 persen dari total kebutuhan 11 komoditas utama.
Untuk komoditas beras, Indonesia bahkan tidak melakukan impor beras medium sepanjang 2025, dengan produksi nasional mencapai 34,69 juta ton. Kondisi ini dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam mencapai swasembada pangan.
Baca Juga: Mahasiswa Apresiasi Mentan Amran Gercep Selesaikan Aduan Pupuk Subsidi
Dari sisi kesejahteraan petani, indikator Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat berada di angka 125,45 pada Februari 2026, mencerminkan peningkatan daya beli petani. Hal ini turut didorong kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi.
“Pupuk subsidi turun 20 persen. Ini tidak pernah terjadi selama republik ini merdeka. Di saat dunia kekurangan pupuk dan harga naik, di Indonesia justru turun,” ujar Mentan Amran.
Sektor pertanian juga berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi sektor ini mencapai 12,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I 2026.
Selain itu, kinerja ekspor komoditas pertanian mengalami peningkatan sebesar 28,26 persen atau Rp166,71 triliun, sementara impor turun 9,66 persen atau Rp41,68 triliun.
Baca Juga: Mentan Amran Apresiasi Bareskrim, Minta Aktor Penyelundupan Pangan Diusut Tuntas
“Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya fondasi pertanian kita semakin kuat,” tegasnya.
Dalam aspek penegakan hukum, Mentan Amran menegaskan komitmen pemerintah dalam memberantas praktik ilegal di sektor pertanian, termasuk mafia pupuk.
“Ada koruptor, kita penjarakan. Di sektor pertanian sudah 76 tersangka. Bahkan ada pejabat eselon II yang kita pecat dan penjarakan. Ini uang negara, tidak boleh disalahgunakan,” tegasnya.
Menanggapi laporan mahasiswa terkait distribusi pupuk dan peredaran komoditas ilegal, ia memastikan akan menindaklanjuti melalui jalur hukum.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong transformasi sektor pertanian melalui hilirisasi komoditas strategis seperti sawit, kakao, kopi, dan kelapa, serta modernisasi melalui mekanisasi dan penggunaan benih unggul.
Dalam forum tersebut, Mentan Amran turut membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk melihat langsung kondisi di lapangan sebagai bagian dari transparansi.
“Kami buka apa adanya. Tidak usah ditutup-tutupi. Silakan mahasiswa lihat langsung, bertanya langsung. Kita bangun kepercayaan dengan data,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam membangun sektor pertanian ke depan.
“Negara ini tidak bisa kita bangun sendiri. Harus kolaborasi. Mahasiswa kita libatkan, kita gandeng bersama. Ini negara milik kita bersama dan masa depannya ada di tangan kalian,” kata Mentan Amran.
Dialog antara 118 BEM dan Menteri Pertanian ini menjadi momentum memperkuat komunikasi publik yang terbuka dan berbasis data, sekaligus menegaskan peran strategis mahasiswa dalam mengawal kebijakan dan pembangunan sektor pertanian nasional. (*)
Editor : Miftahul Khair