Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

50 Biksu Lintas Negara Jalan Kaki Menuju Borobudur Bawa Pesan Damai Waisak

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 6 Mei 2026 | 22:34 WIB
Peserta menerbangkan lampion saat Festival Lampion Waisak 2025 di Marga Utama kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/5/2025).
Peserta menerbangkan lampion saat Festival Lampion Waisak 2025 di Marga Utama kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/5/2025).

 

PONTIANAK POST – Sebanyak 50 biksu dari berbagai negara akan menempuh perjalanan kaki menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dalam rangka “Indonesia Walk for Peace 2026” sebagai bagian dari peringatan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE)/2026.

Perjalanan spiritual ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol kuat pesan perdamaian lintas bangsa dan lintas iman.

Ketua Panitia Walk for Peace, Alex Fernando, menjelaskan rombongan biksu memulai perjalanan dari Bali dan akan memasuki wilayah Jawa Tengah melalui Sragen.

“Di Sragen para biksu akan singgah dan berkegiatan di pendopo sebelum melanjutkan perjalanan,” ujarnya, Rabu (6/5).

Dari Sragen, perjalanan dilanjutkan ke Surakarta, Klaten, Yogyakarta, hingga Muntilan. Rombongan kemudian menuju Vihara Mendut sebelum mencapai puncak perjalanan di Candi Borobudur untuk mengikuti Waisak Nasional pada 31 Mei 2026.

Di setiap kota yang disinggahi, rangkaian kegiatan tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga terbuka bagi masyarakat.

Di Surakarta, misalnya, akan digelar pemasangan ornamen Waisak dan meditasi bersama yang melibatkan publik. 

“Kami ingin perjalanan ini juga menjadi ruang perjumpaan spiritual dengan masyarakat,” kata Alex.

Rangkaian peringatan Waisak tahun ini dijadwalkan berlangsung sejak 19 Mei hingga 6 Juni 2026. Selain perjalanan damai, kegiatan juga meliputi kirab, pindapata (derma makanan kepada biksu), meditasi, hingga donor darah—menggabungkan dimensi spiritual dan kemanusiaan dalam satu perayaan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai “Walk for Peace” bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. “Nanti kita upayakan bisa ikut serta,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memastikan dukungan konkret melalui fasilitasi wilayah, pengamanan, serta dukungan administratif guna menjamin kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Candi Borobudur bukan sekadar warisan budaya dunia, melainkan sumber nilai spiritual yang hidup dan relevan untuk memperkuat karakter serta harmoni masyarakat.

“Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri kokoh, melainkan sebuah ‘kitab yang dipahat’. Setiap reliefnya mengajak kita merenung, melihat ke dalam diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan,” ujar Nasaruddin dalam Roadshow Lokakarya Borobudur Sambut Waisak di Jakarta, Rabu.

Ia menekankan, Borobudur perlu dimaknai lebih dari sekadar struktur fisik. Candi tersebut, menurutnya, merepresentasikan perjalanan batin manusia menuju kebijaksanaan—sebuah pesan universal yang tetap relevan di tengah dinamika zaman.

“Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencerminkan ajaran tentang pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup,” katanya.

Mengusung tema Reinterpreting Borobudur, kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai kajian akademik, tetapi juga panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agar hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks keberagamaan, Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga kesakralan situs keagamaan. Ia menegaskan bahwa setiap agama memiliki konsep ruang dan waktu sakral yang harus dihormati sebagai bagian dari etika bersama.

“Tempat ibadah adalah ruang perjumpaan batin antara manusia dengan Tuhan. Di sanalah ketenangan, kebijaksanaan, dan kesadaran diri tumbuh. Karena itu, menjaga etika terhadap ruang-ruang sakral menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Sebagai Imam Besar Masjid Masjid Istiqlal, Nasaruddin mengajak masyarakat menjadikan Borobudur sebagai sumber inspirasi dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan kasih sayang yang terpahat di dalamnya dinilai penting sebagai fondasi kehidupan yang beradab dan harmonis.

Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut harus terus dihidupkan agar menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang inklusif dan damai.

Di sisi lain, pelestarian Borobudur tidak cukup hanya menjaga bentuk fisiknya. Menurutnya, makna dan nilai yang terkandung di dalamnya harus tetap dirawat melalui kolaborasi lintas sektor.

“Warisan besar seperti Borobudur akan terus bermakna jika dijaga bersama—melalui sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan tokoh agama. Dengan begitu, nilai-nilainya akan terus memberi manfaat bagi generasi kini dan mendatang,” pungkasnya. (ant)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#biksu #toleransi #waisak #Perdamaian #borobudur