PONTIANAK POST - Kasus pelecehan oleh seorang yang mengaku kiai di Pati menyeret puluhan santri menjadi alarm keras bagi para orang tua.
Di tengah meningkatnya minat menyekolahkan anak ke pesantren, kehati-hatian dalam memilih lembaga pendidikan berbasis agama kini menjadi bagian penting dari gaya hidup orang tua modern.
Menjamurnya Pesantren, Orang Tua Harus Lebih Jeli
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pesantren terus bertambah pesat. Fenomena ini memang memberi banyak pilihan bagi orang tua, tetapi sekaligus menuntut kehati-hatian ekstra.
Baca Juga: Akhir Pelarian Kiai Cabul Ashari: Santriwati Digilir dan Dipukuli
Tidak semua pondok pesantren memiliki kejelasan arah pendidikan, kualitas pengasuh, maupun sistem pengawasan yang memadai.
Sebagaimana disampaikan oleh KH Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf dikutip dari NU Online bahwa orang tua tidak boleh asal memilih pondok pesantren.
Kemunculan banyak pesantren harus disikapi secara kritis dengan membedakan mana yang memiliki sanad keilmuan jelas dan mana yang masih abu-abu.
Berikut tips memilih pesantren dari Gus Yusuf yang perlu kita perhatikan:
Baca Juga: Kiai Ashari Tersangka Pencabulan Santriwati Hilang, Warga Geram Desak Polisi Bertindak
Sanad Keilmuan Jadi Penentu Penting
Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah sanad keilmuan. Sanad bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi indikator bahwa ilmu yang diajarkan memiliki rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi masyarakat yang dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama, memilih pesantren yang memiliki keterkaitan dengan NU dinilai lebih aman karena sudah teruji dari sisi kapasitas keilmuan dan tradisi keagamaannya.
Sejalan dengan Nilai Kebangsaan
Selain keilmuan, orang tua juga perlu memastikan bahwa pesantren memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Lingkungan pendidikan yang sehat tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan sikap setia pada negara dan menghormati dasar negara seperti Pancasila.
Pesantren yang tidak bertentangan dengan nilai kebangsaan dinilai lebih mampu membentuk karakter santri yang seimbang antara religiusitas dan kehidupan bermasyarakat.
Jangan Hanya Percaya Nama Besar
Kasus di Pati menjadi pengingat bahwa popularitas atau nama besar pesantren tidak selalu menjamin keamanan.
Orang tua perlu menggali lebih dalam tentang latar belakang kiai, sistem pendidikan, serta budaya yang berkembang di lingkungan pesantren.
Kejelasan afiliasi, termasuk apakah pengasuh dan lembaga memiliki latar belakang organisasi yang jelas atau tidak, menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Lebih Selektif dan Terlibat
Di era sekarang, memilih pesantren bukan lagi sekadar mengikuti tradisi keluarga. Orang tua dituntut lebih aktif, kritis, dan terlibat dalam memastikan anak berada di lingkungan yang aman dan mendukung.
Pesan yang mengemuka hari ini jelas: kewaspadaan adalah bentuk tanggung jawab. Dengan selektif memilih pesantren yang jelas sanad, nilai, dan kredibilitasnya, orang tua bisa meminimalkan risiko sekaligus memastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik. (*)
Editor : Miftahul Khair