PONTIANAK POST – Program makan bergizi gratis (MBG) di Surabaya menuai sorotan setelah sekitar 200 siswa dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh diduga mengalami keracunan makanan, Senin (11/5).
Para siswa mengalami mual, muntah, hingga pusing usai menyantap menu daging krengsengan yang dibagikan sekolah.
Sejumlah siswa bahkan harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas dan rumah sakit akibat keluhan yang muncul tak lama setelah makan.
Cecilia, salah satu siswa korban, mengaku mulai merasa mual dan muntah setelah mencicipi menu daging yang baru pertama kali disajikan dalam program MBG tersebut.
“Baru pertama kali ini menunya daging. Biasanya menunya ya keringan, lalu ada sayuran juga,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos (kelompok Pontianak Post), Senin (11/5/2026).
Ia mengaku rasa bumbu daging terasa aneh. Bahkan, menu ayam yang ikut disajikan juga dinilai kurang layak.
“Saya kurang tahu apakah sudah matang atau tidak,” katanya.
Wati, ibu Cecilia, mengungkapkan anaknya sempat mendapat penanganan medis hingga diinfus untuk menetralkan kondisi tubuh akibat dugaan keracunan.
“Sudah, jangan lagi. Saya bawakan bekal sendiri saja, tidak usah makan MBG kalau begini,” tegasnya.
Puskesmas Tembok Dukuh bergerak cepat setelah menerima laporan dari sekolah sekitar pukul 09.00 WIB.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh drg Tiyas Pranadani mengatakan, sebanyak 12 sekolah mulai tingkat SD hingga SMP melaporkan siswanya mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan MBG.
“Data sementara yang kami himpun ada sekitar 12 sekolah. Gejalanya rata-rata mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan tersebut,” ujarnya saat ditemui di RSIA IBI Surabaya.
Dari total korban, sekitar 100 siswa sempat dibawa ke RSIA IBI Surabaya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sementara siswa lainnya ditangani langsung oleh tim medis yang diterjunkan ke sekolah-sekolah.
Tiyas memastikan mayoritas siswa hanya mengalami gejala ringan dan tidak membutuhkan perawatan intensif.
“Alhamdulillah, semuanya sejauh ini rawat jalan dan tidak ada yang sampai rawat inap. Banyak yang sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pengobatan di tempat maupun di puskesmas,” jelasnya.
Tim kesehatan kini telah mengamankan sampel seluruh menu MBG untuk diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK). Dugaan sementara mengarah pada menu daging krengsengan yang baru pertama kali disajikan.
“Kami masih cek ulang, tapi laporan dari guru-guru biasanya memang tidak dikasih daging, baru hari ini ada daging. Ini masih kemungkinan ya,” paparnya.
Kasus tersebut membuat operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Putra Garam di Kelurahan Tembok Dukuh dihentikan sementara.
“Kita berhenti operasional. Kita evaluasi dulu sampai semua benar-benar baik,” ujar Kepala SPPG Tembok Dukuh Chafi Alida Najla.
Penghentian sementara dilakukan atas rekomendasi Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya hingga hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan Surabaya keluar.
Chafi mengklaim proses pengolahan makanan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Ia menyebut bahan daging yang diterima dari pemasok juga dalam kondisi baik saat diterima dapur SPPG.
Namun, pihaknya tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan kualitas selama proses penyimpanan bahan makanan.
“Saat kita terima dagingnya sudah bagus. Karena memang daging itu kan bahan yang sangat riskan,” katanya.
SPPG juga menyampaikan permintaan maaf kepada para siswa dan orang tua atas insiden tersebut. Mereka memastikan siap menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
“Kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan juga segala observasi yang dilakukan di lapangan,” tutur Chafi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dr Billy Daniel Messakh menyebut total pasien bergejala mencapai 124 orang. Dari jumlah tersebut, 121 pasien telah dipulangkan setelah kondisinya membaik.
“Tiga pasien belum boleh pulang karena masih bergejala jadi perlu rawat inap,” ujarnya.
Menurut Billy, petugas gabungan telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium Kementerian Kesehatan. Hasil pemeriksaan masih menunggu keluar dalam beberapa hari ke depan. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro