Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Okupansi Hotel Mewah di Indonesia Kembali ke Level Pra-Pandemi, Bali Jadi Motor Pertumbuhan Wisata Premium

Basilius Andreas Gas • Rabu, 13 Mei 2026 | 07:45 WIB
Regional Vice President-Asia Pacific STR Jesper Palmsqvuit (paling kanan) menjelaskan situasi hotel mewah di Indonesia dalam temu media di Jakarta, Selasa (12/5). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)
Regional Vice President-Asia Pacific STR Jesper Palmsqvuit (paling kanan) menjelaskan situasi hotel mewah di Indonesia dalam temu media di Jakarta, Selasa (12/5). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

PONTIANAK POST- Tingkat keterisian hotel mewah di Indonesia dinilai telah kembali ke posisi sebelum pandemi COVID-19 seiring meningkatnya minat wisata premium dan tumbuhnya sektor pariwisata domestik.

Regional Vice President-Asia Pacific STR Jesper Palmsqvuit mengatakan okupansi hotel mewah di Indonesia dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026 mencapai 64 persen atau setara dengan capaian sebelum pandemi.

"Jadi ini merupakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan sangat positif dan menjadikan proyeksinya pun untuk masa depan menjadi tinggi," kata Palmsqvuit dalam temu media di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan capaian tersebut melampaui segmen hotel lainnya yang hingga kini masih berada di bawah tingkat pra-pandemi dengan rata-rata okupansi sekitar 59 persen.

Selain tingkat hunian yang meningkat, tarif kamar hotel di Indonesia juga disebut mengalami kenaikan lebih dari 40 persen dibandingkan tahun 2019.

Menurut Palmsqvuit, pertumbuhan sektor wisata mewah di Indonesia didorong meningkatnya minat wisatawan domestik terhadap destinasi premium di sejumlah daerah.

Salah satu wilayah yang mengalami perkembangan signifikan adalah Bali. Berdasarkan riset C9 Hotelworks, Bali saat ini menyumbang sekitar 25 persen pasar branded residence atau hunian mewah di Indonesia.

Saat ini terdapat lebih dari 70 proyek pengembangan aktif yang tersebar di kawasan wisata seperti Canggu, Berawa, Uluwatu, Seminyak hingga Sanur.

Director Harmoni Bali Edward Kusma mengatakan pengembangan potensi wisata premium di Bali masih memerlukan dukungan pemerintah, terutama dalam penanganan persoalan lingkungan dan infrastruktur.

Menurut dia, persoalan sampah di destinasi wisata serta akses air bersih di wilayah Bali Selatan perlu segera diatasi agar daya tarik pariwisata tetap terjaga.

Ia juga menilai pembangunan infrastruktur harus semakin dimatangkan agar sektor branded residence yang terintegrasi dengan layanan hotel dapat berkembang lebih optimal.

Selain itu, Edward menyebut keberadaan fasilitas penunjang seperti sekolah dan rumah sakit internasional dapat menjadi faktor yang memperpanjang masa tinggal wisatawan di Bali.

Direktur Pacific Asia Horwath HTL Matt Gebbie menambahkan pengembangan wisata mewah di Indonesia tidak hanya bergantung pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga kemudahan akses menuju destinasi wisata.

"Untuk dapat membuka lebih banyak lokasi pariwisata di Indonesia, pertama-tama, kita membutuhkan akses. Mudah bagi wisatawan mewah untuk datang ke sana, karena lebih mudah untuk membantu lebih banyak orang datang, dan pada akhirnya, akan memberikan apa yang kita inginkan, yaitu tingkat hunian yang lebih tinggi untuk destinasi di sana," ujar Gebbie. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#wisata #level #pandemi #mewah #hunian hotel