Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BGN: Perputaran Dana MBG di NTB Capai Rp824 Miliar per Bulan, 824 SPPG Berperan Serap Produk Lokal dan Dorong Ekonomi Petani

Basilius Andreas Gas • Rabu, 13 Mei 2026 | 08:57 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang dibangun PT Krakatau Stell untuk daerah 3T di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (12/5/). (ANTARA/Nur Imansyah.)
 Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang dibangun PT Krakatau Stell untuk daerah 3T di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (12/5/). (ANTARA/Nur Imansyah.)

PONTIANAK POST-, Perputaran dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat mencapai Rp824 miliar setiap bulan, seiring berdirinya ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah tersebut.

"Alhamdulillah sampai dengan sekarang di NTB sudah ada 824 SPPG yang berdiri. Satu SPPG itu mengelola Rp1 miliar. Itu artinya uang yang beredar di NTB Rp824 miliar per bulan," ujarnya pada kegiatan peluncuran SPPG modular yang dibangun PT Krakatau Steel di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Selasa.

Ia menjelaskan, setiap SPPG mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar dengan porsi 70 persen digunakan untuk pembelian bahan pangan lokal seperti beras, telur, sayuran, buah, ikan, hingga daging yang dipasok petani, peternak, dan nelayan di NTB. Skema ini dinilai memperkuat serapan hasil produksi daerah.

Menurutnya, SPPG berperan sebagai "offtaker" atau penyerap utama produk lokal. Sekitar 20 persen anggaran dialokasikan untuk tenaga kerja lokal, termasuk ibu-ibu serta pemuda dan pemudi, dengan penghasilan berkisar Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta, sementara 10 persen lainnya untuk operasional dapur.

"Jadi, kehadiran SPPG ini menjadi "offtaker" atau pihak yang terdepan mengambil produk-produk lokal. Termasuk dalam memperkerjakan masyarakat lokal mulai dari ibu-ibu, pemuda/pemudi dan itu dibiayai 20 persen dari uang yang masuk di SPPG, sehingga mereka yang bekerja akan memiliki pendapatan antara Rp2,4 juta sampai Rp3,5 juta. Tinggal kita lihat seperti apa operasionalisasi-nya, karena 10 persen untuk dapur SPPG," kata Dadan Hindayana. (*)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#Mbg #SPPG #NTB #BGN #perputaran dana