Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemprov Kaltim Dukung Hilirisasi Kratom sebagai Komoditas Ekspor Unggulan, Nilai Ekonomi Diproyeksi Capai Miliar Rupiah per Hektare

Basilius Andreas Gas • Rabu, 13 Mei 2026 | 09:10 WIB
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji saat menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Kantor Gubernur Kaltim. (ANTARA/ HO- Adpim)
 Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji saat menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Kantor Gubernur Kaltim. (ANTARA/ HO- Adpim)

PONTIANAK POST- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan tanaman kedemba atau kratom (Mitragyna speciosa) sebagai komoditas ekspor unggulan baru di sektor pertanian dan kehutanan.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menegaskan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi nonmigas yang berbasis sumber daya alam berkelanjutan.

"Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi nonmigas berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan," kata Seno Aji saat menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Samarinda, Selasa.

Ia menegaskan pemerintah daerah berkomitmen mengawal proses hilirisasi kratom yang kerap disebut sebagai “Emas Hijau Kalimantan” dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kehutanan, tim ahli gubernur, serta instansi terkait lainnya guna memperkuat aspek regulasi dan pengembangan industri.

Pemprov Kaltim juga menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam penguatan industri, termasuk dukungan pendanaan agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.

"Pemprov Kaltim serius mendukung hilirisasi kratom. Kami siap terlibat aktif, termasuk memberikan dukungan pendanaan untuk memastikan komoditas ini memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah," tegas Seno Aji.

Sebagai tindak lanjut, Wagub berencana melakukan kunjungan langsung ke fasilitas produksi dan laboratorium di L3 Tenggarong Seberang untuk memastikan kesiapan industri sebelum pengembangan lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, perwakilan PT Borneo Riseta Naturafarm memaparkan peta jalan transformasi kratom yang dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi apabila dikelola melalui hilirisasi berbasis industri.

Berdasarkan kajian, nilai jual daun segar kratom hanya berkisar Rp80–Rp120 juta per hektare per tahun, namun dapat meningkat hingga Rp2,3 miliar sampai Rp5,7 miliar per hektare per tahun jika diolah menjadi produk ekstrak bernilai tinggi.

Sementara itu, PT DJB Botanicals Indonesia menyebut Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia dengan pasar utama Amerika Serikat, Eropa, India, dan Thailand. Perusahaan tersebut juga telah mengantongi izin ekspor dari Kementerian Perdagangan sejak 2019.

Ke depan, pelaku industri mendorong pengembangan konsep East Borneo Botanicals Corridor sebagai kawasan terintegrasi untuk penguatan komoditas botani, termasuk tanaman lokal lain seperti tahongai, nuciferine, arecoline, dan bawang Dayak. (*)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#ekspor #NILAI EKONOMI #kaltim #hilirisasi