PONTIANAK POST- UPTD Kebun Raya Banua Kalimantan Selatan memperkuat penelitian tanaman berkhasiat obat khas Kalimantan melalui kegiatan eksplorasi tumbuhan di Kabupaten Tanah Bumbu sebagai bagian dari pengembangan riset sekaligus konservasi tanaman lokal.
Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan Exsitu UPTD Kebun Raya Banua Kalsel Muhammad Ferza Listyannoor di Banjarbaru, Kamis, mengatakan eksplorasi tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung fungsi penelitian di Kebun Raya Banua.
“Penelitian itu sekaligus mendukung upaya konservasi tanaman lokal. Eksplorasi ini menjadi bagian penting dalam mendukung fungsi riset di Kebun Raya Banua, tanaman yang ditemukan nantinya akan dikembangkan dan dikaji lebih lanjut sesuai potensi masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai tanaman obat maupun bahan baku produk herbal khas Kalimantan Selatan di masa mendatang.
Peneliti Kebun Raya Banua Noor Laily Aziza menambahkan lembaganya memfokuskan pengembangan pada tanaman obat dan tumbuhan berkhasiat yang selama ini dimanfaatkan masyarakat secara tradisional.
Menurut dia, penelitian saat ini diarahkan pada proses skrining berbagai tumbuhan lokal guna mengetahui kandungan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku obat alami.
“Kami berupaya menskrining tumbuhan-tumbuhan yang memiliki potensi sebagai sumber obat. Harapannya ke depan Kalimantan dapat memiliki bahan baku obat yang berasal dari tumbuhan lokal sendiri,” katanya.
Noor Laily mengatakan pengembangan riset juga mengedepankan pengetahuan lokal masyarakat yang diwariskan turun-temurun, terutama terkait manfaat tanaman obat yang diperoleh langsung saat kegiatan eksplorasi berlangsung.
“Kami banyak belajar dari masyarakat, baik suku Dayak, Banjar maupun suku lainnya. Mereka memiliki pengetahuan tentang fungsi tanaman tertentu sebagai obat tradisional, kemudian kami identifikasi dan teliti secara ilmiah,” tuturnya.
Ia menilai kajian tersebut menjadi penghubung antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern karena sejumlah tanaman yang dipercaya berkhasiat ternyata terbukti memiliki kandungan senyawa aktif berdasarkan penelitian ilmiah.
Salah satu tanaman yang diteliti adalah pohon ulin yang secara tradisional dimanfaatkan masyarakat sebagai minyak rambut dan diyakini dapat menghambat munculnya uban.
“Ternyata setelah diteliti memang ada senyawa tertentu pada ulin yang berpotensi menghambat pembentukan uban. Jadi pengetahuan lokal yang diwariskan masyarakat itu memiliki dasar ilmiah,” ungkapnya.
Selain melakukan penelitian internal, Kebun Raya Banua juga membuka peluang kerja sama bagi peneliti dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian lain untuk melakukan riset dan pengembangan kajian ilmiah di kawasan kebun raya tersebut.
Noor Laily berharap Kebun Raya Banua ke depan tidak hanya menjadi pusat konservasi tumbuhan khas Kalimantan, tetapi juga mampu menghasilkan produk berbasis tanaman lokal sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai manfaat tumbuhan obat.
“Pengetahuan lokal itu adalah harta karun Kalimantan Selatan. Jadi yang ingin kita selamatkan bukan hanya tanamannya, tetapi juga pengetahuan masyarakat tentang manfaat tumbuhan tersebut,” ujar Noor Laily. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas