Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ekspor Pupuk Urea ke Australia Capai Rp7 Triliun, Harga Pupuk Subsidi Dalam Negeri Turun 20 Persen untuk Petani

Basilius Andreas Gas • Jumat, 15 Mei 2026 | 08:01 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah), Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath (kedua kanan) dalam pelepasan ekspor perdana produk urea PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (14/5). (ANTARA/HO-Kementan)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah), Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath (kedua kanan) dalam pelepasan ekspor perdana produk urea PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (14/5). (ANTARA/HO-Kementan)

PONTIANAK POST- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut industri pupuk nasional semakin kuat setelah Indonesia mulai mengekspor pupuk urea ke Australia, sementara harga pupuk subsidi di dalam negeri berhasil ditekan hingga 20 persen.

Amran mengatakan pemerintah mencatat kemajuan besar di sektor pupuk nasional melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menurunkan harga pupuk subsidi tanpa menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Di saat geopolitik dunia memanas, Indonesia Alhamdulillah harga pupuknya turun 20 persen. Pupuk subsidi untuk petani Indonesia," kata Amran di sela pelepasan ekspor perdana produk urea PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, sebagaimana keterangan di Jakarta, Kamis.

Selain penurunan harga, pemerintah juga menambah alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 700 ribu ton guna memperluas akses petani terhadap kebutuhan pupuk.

"Volume pupuk bertambah. Inilah kebahagiaan 160 juta petani Indonesia dan 115 juta petani padi (diantaranya),” ujar Amran.

Menurut dia, ekspor pupuk urea ke Australia menjadi tonggak baru transformasi industri pupuk nasional dengan nilai kerja sama mencapai sekitar Rp7 triliun.

Pelepasan ekspor tersebut sekaligus menandai penguatan sektor pupuk nasional dari hulu hingga hilir melalui peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar internasional.

Kerja sama itu juga menjadi bagian dari penguatan hubungan sektor pupuk melalui skema government-to-government (G2G) antara Indonesia dan Australia.

Amran menjelaskan ekspor perdana yang dilepas mencapai 47.250 ton pupuk urea dengan nilai sekitar Rp600 miliar. Pengiriman tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250 ribu ton dan ditargetkan meningkat hingga 500 ribu ton.

“Nilai totalnya bisa mencapai sekitar Rp7 triliun,” katanya.

Setelah Australia, pemerintah mulai mengarahkan penguatan pasar ekspor pupuk nasional ke sejumlah negara strategis lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara kedua negara di sektor pupuk dan ketahanan pangan.

“Australia menghargai hubungan dengan Indonesia. Kerja sama ini mencerminkan persahabatan dan kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia, bukan hanya dengan PT Pupuk Indonesia,” ujar Gita Kamath.

Ia menilai kerja sama tersebut memberikan manfaat langsung terhadap penguatan ketahanan pangan kedua negara, terutama bagi sektor pertanian Australia.

Menurut dia, pupuk dari Indonesia akan membantu petani Australia meningkatkan produksi komoditas seperti gandum yang selama ini digunakan untuk berbagai produk pangan di Indonesia.

"Ini contoh nyata kerja sama Indonesia dan Australia yang menghasilkan manfaat bersama,” kata Gita Kamath. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#ekspor #pupuk #penurunan harga #pemerintah #subsidi