PONTIANAK POST- Pemerintah berencana membangun 2.000 lokasi kampung nelayan di berbagai wilayah Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan penguatan sektor perikanan nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Kupang, Jumat, mengatakan program tersebut juga akan menyasar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai daerah kepulauan dengan potensi perikanan cukup besar.
“Seluruh Indonesia kita akan bangun 2.000 lokasi termasuk di Nusa Tenggara Timur,” kata Zulkifli Hasan usai kunjungan kerja ke Gereja Bethel Indonesia (GBI) Nusa Tenggara Timur.
Dalam kunjungan tersebut, Menko Pangan juga menyampaikan ucapan selamat Hari Kenaikan Yesus Kristus kepada umat Kristiani di Kupang.
Zulkifli Hasan menjelaskan pemerintah pusat masih menunggu data dari pemerintah daerah terkait jumlah titik kampung nelayan yang akan dibangun di NTT pada 2026.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan pendataan agar proses pembangunan dapat segera direalisasikan.
Menurut dia, kampung nelayan yang dibangun nantinya akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti pabrik es, cold storage, pasar lelang hingga Koperasi Nelayan Merah Putih.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu nelayan menyimpan hasil tangkapan dan menjaga stabilitas harga ikan di tingkat nelayan.
“Kalau habis melaut, dapat ikan banyak, dijual, ditawar murah-murah dan dijual. Kalau tidak dijual, busuk. jadi akan kita bangun kampung nelayan,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menambahkan pemerintah juga akan memperkuat Koperasi Desa Merah Putih di NTT dengan tambahan fasilitas berupa kendaraan operasional seperti truk, mobil pikap, cold storage serta dukungan dana untuk kegiatan simpan pinjam.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli Hasan turut menegaskan sejumlah program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Program Bapak Presiden saat ini sangat pro terdapat rakyat. Semua program yang dibangun ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas