PONTIANAK POST- Presiden Prabowo Subianto menegaskan kebijakan luar negeri bertetangga baik atau "good neighbor policy" menjadi strategi Indonesia dalam menjaga hubungan harmonis dengan negara-negara sekitar, termasuk mencegah potensi konflik di kawasan perbatasan Laut Natuna Utara.
Pernyataan itu disampaikan Presiden saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, di hadapan sejumlah pejabat negara.
"Saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik, we want to be the good neighbor, and our policy is the good neighbor policy. Jadi, saya perbaiki hubungan sama Singapura, perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan, kita selesaikan," kata Presiden Prabowo.
Ia menyebut pemerintah juga terus memperkuat hubungan diplomatik dengan sejumlah negara lain, seperti Vietnam, Tiongkok, Malaysia, Papua Nugini, Australia, hingga Thailand.
"Dengan Vietnam kita selesaikan. Sama Tiongkok, kita perbaiki. Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut. Sama Malaysia, saya berusaha. Insyaallah kita selesaikan dengan baik, sama PNG kita baik, sama Australia kita baik, semua tetangga, sama Thailand kita baik," ujar Presiden.
Menurut Prabowo, kebijakan tersebut merupakan implementasi politik luar negeri bebas aktif yang berakar dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan pemikiran para pendiri bangsa.
Ia menilai prinsip diplomasi Indonesia selama ini sejalan dengan ajaran tokoh nasional seperti Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.
"Kaum buruh, percayalah semuanya, faham saya adalah faham pendiri bangsa kita. Sebetulnya, saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Maaf, Bung Karno bukan hanya milik satu partai. Bung Karno adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, milik seluruh rakyat semuanya, Sjahrir, semua," katanya.
Presiden juga menekankan pentingnya membangun hubungan persahabatan dengan semua negara tanpa membeda-bedakan ukuran maupun kekuatan negara tersebut.
"Makanya, banyak kawasan sering perang. Indonesia, bebas aktif, 1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua," ujar Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Presiden turut menceritakan pengalamannya saat menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka.
Menurut Prabowo, pemimpin Fiji tersebut merasa terharu karena Indonesia memberikan penghormatan yang sama kepada negaranya meskipun berukuran kecil.
"Suatu saat, saya terima Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka. Saya terima kunjungan resmi. Dia masuk ke kantor saya setelah upacara. Di depan wartawan, dia keluar air mata. (PM Fiji menyatakan kepada Presiden Prabowo): Yang Mulia, saya selama jadi Perdana Menteri di Fiji,cukup lama dia menjadi Perdana Menteri di Fiji, saya belum pernah menerima penerimaan seperti ini. Saya sangat terharu. Kenapa? Karena negara saya sangat kecil. Negara dia hanya satu juta orang (penduduknya, red.), tetapi kita perlakukan sama dengan negara yang besar. Itulah Indonesia," kata Presiden Prabowo. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas