Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kementerian Ekraf dan GBCI Perkuat Edukasi Gaya Hidup Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Kreatif Menuju Indonesia Emas 2045

Basilius Andreas Gas • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:28 WIB
 Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Green Building Council Indonesia (GBCI) di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Senin (18/5).(ANTARA/HO-Kementerian Ekonomi Kreatif)
 Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Green Building Council Indonesia (GBCI) di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Senin (18/5).(ANTARA/HO-Kementerian Ekonomi Kreatif)

PONTIANAK POST- Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif membuka peluang kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) untuk memperluas edukasi publik mengenai gaya hidup berkelanjutan melalui pendekatan kreatif yang lebih dekat dengan masyarakat.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan isu keberlanjutan perlu dikemas secara lebih sederhana agar mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda dan komunitas.

“Kita ingin sustainability menjadi sesuatu yang membumi dan mudah dipahami. Anak-anak muda sekarang punya perhatian besar terhadap isu lingkungan. Tinggal bagaimana kita menghadirkan ruang kolaborasi dan pendekatan kreatif supaya pesan keberlanjutan ini semakin luas diterima,” ujar Irene Umar dalam keterangan pers, Rabu.

Menurut Irene, pendekatan kreatif dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan literasi masyarakat terkait keberlanjutan. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui film, kegiatan publik, hingga kolaborasi bersama figur publik.

Ia menambahkan, penguatan gaya hidup berkelanjutan juga sejalan dengan pengembangan sektor ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam audiensi tersebut, GBCI memaparkan rencana pelaksanaan “Green Building Festival” pada September 2026. Agenda itu akan menghadirkan sejumlah program edukasi publik, termasuk inisiatif “Green Building Goes to Kampung” guna memperluas pemahaman masyarakat mengenai praktik ramah lingkungan melalui pendekatan sederhana dan mudah diterapkan.

Menanggapi hal tersebut, Irene menegaskan konsep green building tidak sebatas sertifikasi bangunan, tetapi juga harus memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

“Green building jangan hanya dipandang sebagai sertifikasi gedung besar saja. Kita ingin bagaimana konsep keberlanjutan ini bisa dipahami sampai ke tingkat masyarakat paling kecil, karena ketika masyarakat merasakan langsung manfaatnya seperti penghematan energi, pengelolaan sampah, dan lingkungan yang lebih sehat, maka perubahan akan lebih mudah terjadi,” tambah Irene.

GBCI merupakan organisasi independen nirlaba yang berdiri sejak 2009 dan menjadi bagian dari jaringan World Green Building Council yang mencakup lebih dari 70 negara. Organisasi tersebut berfokus pada pengembangan industri bangunan hijau melalui sertifikasi, edukasi, pelatihan, penguatan pasar, dan program kolaboratif keberlanjutan.

Ketua Umum GBCI, Ignesjz Kemalawarta, turut membahas peluang pengembangan green financing, pemanfaatan teknologi sensor pintar untuk efisiensi energi, serta penguatan ekosistem bangunan rendah karbon guna mendukung target penurunan emisi nasional.

“Fokus kami adalah bagaimana gedung, kawasan, dan industri bisa menerapkan prinsip hijau sesuai kaidah keberlanjutan. Karena itu kami menyambut baik peluang kolaborasi bersama Kementerian Ekraf untuk memperluas edukasi dan sosialisasi sustainability kepada masyarakat,” ujar Ignesjz. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#Kementerian Ekraf #GBCI #pendekatan kreatif #edukasi