Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Temui Presiden Prabowo, Rusia Tawarkan Konsep PLTN Terapung

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 21 Mei 2026 | 23:04 WIB
Ilustrasi PLTN
Ilustrasi PLTN

 

PONTIANAK POST — Rusia menawarkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung untuk Indonesia sebagai solusi penyediaan energi di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

Tawaran itu disampaikan Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachev, saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa (12/5).

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang kerja sama pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, mulai dari pembangunan PLTN, pengembangan infrastruktur nuklir, hingga pelatihan sumber daya manusia.

PLTN Apung Dinilai Cocok untuk Indonesia

Rosatom menilai Indonesia memiliki karakter geografis yang sangat cocok untuk pengembangan PLTN terapung karena terdiri atas ribuan pulau dan garis pantai yang panjang.

Menurut Likhachev, pembangkit nuklir apung dapat menjadi solusi tahap awal program nuklir nasional Indonesia.

“PLTN apung merupakan solusi paling tepat bagi Indonesia untuk tahap awal program pengembangan nuklir,” ujarnya dalam pernyataan resmi Rosatom, dilansir dari ANTARA.

PLTN terapung merupakan pembangkit listrik yang ditempatkan di kapal atau platform apung untuk menyuplai energi ke wilayah pesisir, pulau terpencil, maupun kawasan yang sulit dijangkau jaringan listrik besar.

Indonesia Butuh Energi Besar di Masa Depan

Rosatom menyebut kebutuhan energi Indonesia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Indonesia disebut menargetkan kapasitas daya nuklir mencapai 500 megawatt pada awal 2030, kemudian meningkat menjadi 7–8 gigawatt pada 2040-an, dan mencapai 35–37 gigawatt pada 2060-an.

Menurut Likhachev, target tersebut sulit dicapai tanpa pembangunan pembangkit berkapasitas besar.

“Hal itu berarti kita tak bisa melakukannya tanpa bantuan pembangkit besar berdaya 1.000 megawatt dan 1.200 megawatt,” katanya.

Rosatom juga menawarkan transfer teknologi dan pelibatan tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan hingga pemeliharaan PLTN.

“Kami siap menawarkan kepada Indonesia lokalisasi maksimum proses teknologi pada tahap konstruksi PLTN hingga tahap pemeliharaannya,” ujar Likhachev.

Dari Reaktor Riset Menuju Nuklir Komersial

Indonesia sebenarnya telah lama memiliki pengalaman di bidang teknologi nuklir melalui reaktor penelitian dan pengembangan kedokteran nuklir.

Rosatom menyebut banyak profesional muda Indonesia di bidang nuklir juga pernah menempuh pendidikan di Rusia.

Pertemuan antara Prabowo dan Rosatom dinilai menjadi sinyal semakin seriusnya pembahasan energi nuklir sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

Rosatom Perluas Pengaruh Energi Global

Rosatom saat ini menjadi salah satu perusahaan nuklir terbesar di dunia dengan puluhan proyek PLTN yang berjalan di berbagai negara.

Perusahaan tersebut mengerjakan proyek nuklir di Bangladesh, Mesir, Hungaria, India, Turki, hingga China.

Selain PLTN konvensional, Rosatom juga aktif menawarkan teknologi reaktor modular kecil dan pembangkit listrik terapung ke berbagai negara berkembang.

Langkah Rusia menawarkan proyek strategis ke Indonesia dinilai bagian dari upaya memperluas pengaruh energi dan teknologi di kawasan Asia.

Harapan Energi Bersih dan Tantangan Keselamatan

Di tengah dorongan transisi energi bersih, PLTN dinilai mampu menyediakan listrik besar dengan emisi karbon rendah.

Namun, isu keselamatan nuklir masih menjadi perhatian publik, terutama karena Indonesia berada di kawasan rawan gempa dan aktivitas vulkanik.

Karena itu, pembahasan mengenai pembangunan PLTN di Indonesia diperkirakan akan memunculkan perdebatan panjang terkait keamanan, regulasi, hingga kesiapan infrastruktur nasional.

Meski demikian, kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat membuat opsi energi nuklir kembali masuk dalam pembicaraan strategis pemerintah. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#PLTN terapung #Rosatom Rusia #energi nuklir Indonesia #pembangkit nuklir apung #Prabowo Subianto