PONTIANAK POST — Dua hari menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Kementerian Haji dan Umrah mematangkan persiapan penempatan tenda dan mitigasi lapangan untuk jemaah haji Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan agar jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah puncak haji dengan tertib, aman, dan nyaman di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara yang berkumpul di Armuzna.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan petugas telah diterjunkan untuk memastikan seluruh jemaah memperoleh tenda sesuai kebutuhan dan kelompoknya masing-masing.
“Sudah ada petugas yang memastikan penempatan jemaah nantinya. Dengan begitu, semua jemaah bisa mendapat tenda sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Penempatan Dicek Hingga Berbasis Nama
Menurut Dahnil, pengaturan jemaah tahun ini dilakukan lebih detail dibanding sebelumnya. Penempatan tidak hanya berdasarkan kloter atau daerah asal, tetapi juga diverifikasi berbasis nama atau by name.
“Sekarang tim sedang memasang dan memastikan, misalnya kloter satu di mana, kloter dua di mana, Sumatera Utara di mana, Jawa Tengah di mana, bahkan kita cek by name,” katanya.
Sistem tersebut diharapkan dapat memudahkan proses pengawasan, meminimalkan jemaah tersesat, dan mempercepat penanganan apabila terjadi kondisi darurat selama fase Armuzna.
Kemenhaj Ancam Cabut Izin KBIHU yang Melanggar
Dahnil menegaskan seluruh pergerakan jemaah selama fase puncak haji berada di bawah koordinasi Kemenhaj.
Karena itu, ia meminta seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) mematuhi aturan dan arahan petugas demi keselamatan jemaah.
“Kalau ada KBIHU atau oknum-oknum lain yang bandel, saya pastikan kami akan segera cabut izinnya. Kami tidak mau jemaah dikorbankan dan dirugikan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk peringatan agar tidak ada pihak yang membuat pergerakan jemaah di luar sistem resmi yang telah disiapkan pemerintah.
Puncak Haji Jadi Momentum Perbaikan Layanan
Menurut Dahnil, penyelenggaraan haji tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas layanan bagi jemaah Indonesia.
Ia berharap pengelolaan yang lebih tertata dapat membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan aman.
“Mimpi besar umat muslim untuk naik haji harus bisa menjadi lebih sempurna,” ujarnya.
Jemaah Muhammad Firdaus Dipastikan Wafat
Di sisi lain, Kemenhaj juga mengonfirmasi wafatnya Muhammad Firdaus (72), jemaah haji Indonesia dari kloter JKG-27 yang sebelumnya dilaporkan hilang di Arab Saudi.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemenhaj, Moh. Hasan Afandi, mengatakan informasi tersebut diperoleh berdasarkan laporan petugas lapangan dan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi.
“Berdasarkan laporan tim di lapangan dan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi, almarhum ditemukan dalam keadaan wafat,” katanya.
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menyiapkan badal haji untuk almarhum.
“Pelaksanaan badal haji tersebut akan dilakukan oleh petugas haji,” ujarnya.
Jemaah Diimbau Tidak Berjalan Sendiri
Hasan juga mengingatkan seluruh jemaah agar tidak membiarkan anggota rombongan berjalan sendiri tanpa pendampingan, terutama jemaah lanjut usia dan mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia meminta jemaah segera melapor kepada petugas apabila membutuhkan bantuan selama pelaksanaan ibadah haji.
Imbauan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mengurangi risiko jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan saat jutaan orang memadati kawasan Armuzna. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro