PONTIANAK POST - Tim peneliti Universitas Hasanuddin bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan menemukan kembali populasi Hiu Gangga atau Glyphis gangeticus, spesies hiu air tawar yang selama bertahun-tahun hilang dari perairan dunia.
Spesies hiu yang sangat langka itu ditemukan di perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat," kata Rohani Ambo Rappe dalam keterangannya di Makassar, Senin (25/5/2026).
Spesies yang Hampir Tak Pernah Terlihat Lagi
Temuan tersebut menjadi kabar penting bagi komunitas konservasi internasional. Sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran historisnya yang membentang dari Pakistan hingga Myanmar.
International Union for Conservation of Nature bahkan menetapkan spesies ini dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah.
Status tersebut menjadikan Hiu Gangga sebagai salah satu hiu paling langka di dunia.
Namun penelitian lapangan yang dilakukan tim kolaborasi internasional pada 2023 menghadirkan fakta mengejutkan. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, para peneliti berhasil mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap.
Jumlah itu menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi keberlangsungan spesies langka tersebut.
Data International Union for Conservation of Nature menyebut Glyphis gangeticus masuk kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah dengan estimasi populasi dewasa tersisa kurang dari 250 individu di alam liar.
Spesies ini dinilai sangat rentan akibat degradasi habitat sungai, pencemaran, pembangunan bendungan, hingga penangkapan tidak sengaja dalam aktivitas perikanan.
IUCN juga mencatat kemunculan Hiu Gangga sangat jarang dalam dua dekade terakhir sehingga penemuan puluhan spesimen di Sungai Sesayap menjadi salah satu temuan konservasi paling penting di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Sungai Sesayap Jadi Harapan Baru Konservasi
Menurut Rohani, temuan tersebut bukan sekadar pencapaian ilmiah, tetapi juga membuka harapan baru bagi konservasi biodiversitas Indonesia.
Ia mengatakan kolaborasi antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 tidak hanya fokus pada pengumpulan data ilmiah, tetapi juga membangun model konservasi yang melibatkan masyarakat lokal.
“Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” katanya.
Penelitian tersebut juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai yang menjadi habitat satwa langka.
Kawasan Sungai Sesayap Diakui Dunia
Peneliti dari James Cook University, Michael Grant, mengungkapkan Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024.
Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu sebagai daerah asuhan atau nursery ground bagi hiu sungai yang sangat langka.
Menurut Michael, keberadaan habitat alami yang masih terjaga menjadi faktor penting yang memungkinkan spesies tersebut bertahan di tengah tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Ancaman terhadap Hiu Sungai Masih Tinggi
Meski temuan ini memberi harapan baru, ancaman terhadap keberlangsungan Hiu Gangga masih tergolong tinggi.
Pencemaran sungai, aktivitas penangkapan ikan, degradasi habitat, hingga perubahan ekosistem perairan menjadi faktor yang selama ini mempercepat penurunan populasi hiu air tawar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Para peneliti menilai perlindungan habitat Sungai Sesayap menjadi langkah penting agar spesies tersebut tidak kembali menghilang dari alam liar.
Peran Perguruan Tinggi dalam Menjaga Biodiversitas
Bagi Unhas, penelitian ini juga menjadi bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan sains yang berdampak langsung terhadap persoalan lingkungan global.
Temuan Hiu Gangga di Kalimantan Utara menunjukkan bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap dan membutuhkan perlindungan serius.
Di tengah meningkatnya ancaman terhadap ekosistem sungai dan laut, penelitian kolaboratif lintas negara dinilai menjadi salah satu harapan untuk menjaga spesies-spesies langka tetap bertahan di habitat alaminya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro