Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Fenomena Dugaan Penipuan Wedding Organizer Makin Marak, Resepsi Pengantin di Bekasi Gagal

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 25 Mei 2026 | 23:48 WIB

 

TERJANGKAU: Harris Hotel Pontianak menghadirkan Paket Wedding Intimate dengan harga terjangkau.
Ilustrasi pesta pernikahan.

 

PONTIANAK POST — Fenomena dugaan penipuan jasa wedding organizer (WO) kembali menjadi sorotan setelah sepasang pengantin berinisial F dan R diduga menjadi korban hingga resepsi pernikahan mereka gagal digelar di Islamic Centre Bekasi, Sabtu (23/5).

Meski akad nikah tetap berlangsung, pasangan tersebut terpaksa menggelar acara secara sederhana tanpa dekorasi, katering, maupun dokumentasi karena seluruh vendor tidak hadir pada hari pelaksanaan resepsi.

F mengaku seluruh paket pernikahan all in telah dilunasi sejak April 2026. Namun, beberapa hari sebelum acara, pihak venue menginformasikan bahwa pembayaran gedung belum diterima.

“Saya pikir semuanya itu sudah clear, tinggal menunggu TM (technical meeting),” kata F dalam keterangan video yang diterima Radar Bekasi (grup Pontianak Post).

Sejak H-7, pihak venue juga terus melakukan konfirmasi terkait pelunasan. Namun pihak WO dari Marwah Catering Service disebut meminta agar pasangan menunggu dengan alasan pembayaran akan segera dilakukan.

Situasi semakin memburuk ketika pihak WO tidak dapat dihubungi menjelang hari pelaksanaan. F dan calon suaminya R kemudian mendatangi kantor WO di Jakarta Timur, namun lokasi tersebut sudah kosong.

Mereka kemudian diarahkan ke sebuah gudang yang disebut sebagai lokasi baru WO, dan sempat bertemu pihak yang mengaku sebagai pemilik.

Dalam pertemuan itu, pihak WO kembali menjanjikan pelunasan pada pukul 16.00 WIB dengan alasan dana belum cair. Bahkan, F sempat membuat surat pernyataan bermaterai terkait pengembalian dana apabila kewajiban tidak dipenuhi.

Namun hingga malam hari, pihak WO tidak kembali lagi.

Menyadari kondisi tidak memungkinkan, keluarga akhirnya memutuskan untuk membatalkan resepsi dan hanya melangsungkan akad nikah secara sederhana.

Pasangan tersebut juga harus menghubungi tamu undangan untuk menyampaikan pembatalan acara yang telah dipersiapkan jauh hari.

“Karena tidak ada kepastian, kami akhirnya memutuskan tidak mengadakan resepsi,” ujar F.

Meski demikian, sejumlah vendor seperti MUA, hairdo, MC, dan etayer tetap membantu pelaksanaan akad nikah secara terbatas.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan persoalan dalam layanan wedding organizer yang merugikan calon pengantin.

Dalam beberapa kasus serupa, masalah umum yang kerap muncul adalah ketidaksesuaian pembayaran vendor, ketidakjelasan kontrak layanan, hingga keterlambatan atau absennya penyedia jasa di hari pelaksanaan.

Hingga kini, pasangan F dan R masih mengalami syok dan belum dapat merinci total kerugian akibat dugaan penipuan tersebut. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih jasa wedding organizer dan memastikan legalitas serta rekam jejak penyedia layanan. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#penipuan wedding organizer #WO gagal acara #resepsi pernikahan batal #Bekasi wedding organizer #kasus WO Indonesia