PONTIANAK POST- Operasi penyelamatan dramatis terhadap pendaki asal Malaysia, Chye Connsynn, yang mengalami cedera saat mendaki Gunung Rinjani akhirnya berhasil dilakukan melalui jalur udara setelah cuaca sempat menghambat proses evakuasi di kawasan pegunungan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Astekita Ardiaristo di Lombok Timur, Selasa, mengatakan evakuasi udara dilakukan sebagai bagian dari fasilitas asuransi premium yang tersedia di TNGR.
“Evakuasi udara adalah salah satu bentuk klaim pada asuransi premium yang ada di TNGR,” katanya.
Ia menjelaskan proses evakuasi bermula dari laporan petugas piket TNGR di Pelawangan pada pukul 06.45 WITA yang menyebut kondisi cuaca cerah, sehingga tim langsung mempersiapkan proses penyelamatan menggunakan helikopter demi keselamatan korban.
Korban kemudian dipindahkan ke tandu untuk mempermudah proses evakuasi sebelum helikopter lepas landas menuju Pelawangan 2.
“Korban dipindahkan ke tandu untuk mempermudah proses evakuasi. Helikopter kemudian take off menuju Pelawangan 2,” ujarnya.
Helikopter sempat mendarat di Sembalun untuk menurunkan tenaga medis guna mengurangi beban pesawat sebelum akhirnya berhasil mendarat di helipad Pelawangan 2 dan mengevakuasi korban menuju Sembalun.
Setelah berhasil dievakuasi dari kawasan Gunung Rinjani, korban langsung diterbangkan menuju rumah sakit rujukan di Denpasar, Bali untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
“Korban diterbangkan menuju rumah sakit rujukan di Denpasar, Bali untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” katanya.
Balai TNGR mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut, di antaranya Basarnas Mataram, Edelweis Medical Health Centre, Asuransi Syariah Kita Bisa, SGI Air Bali, Nusa Medica Clinic, Unit SAR Lombok Timur, relawan dan petugas TNGR.
“Semoga korban segera pulih dan seluruh tim yang bertugas selalu diberikan keselamatan,” katanya.
Sebelumnya, upaya evakuasi sempat mengalami kendala akibat kabut tebal saat helikopter mencoba mendekati lokasi korban pada Senin (25/5/2026). Karena faktor cuaca yang membahayakan penerbangan, helikopter terpaksa kembali ke Denpasar setelah beberapa kali mencoba mendekati titik evakuasi.
Selanjutnya, tim EMHC dan Basarnas bergerak dari Resor Sembalun menuju lokasi korban di Pelawangan 2 guna memberikan perawatan awal sekaligus mempersiapkan evakuasi udara yang akhirnya berhasil dilakukan pada Selasa. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas