Sudah Empat Kali ke Prancis, Kunjungan Presiden Prabowo Saat Libur Iduladha Dipertanyakan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 22:25 WIB
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melaksanakan salat sunah Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, pada Rabu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan 10 Zulhijah 1447 Hijriah. Kehadiran Presiden dalam salat berjemaah tersebut menjadi momen hangat bagi warga negara Indonesia dan diaspora yang berada di Prancis. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melaksanakan salat sunah Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, pada Rabu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan 10 Zulhijah 1447 Hijriah. Kehadiran Presiden dalam salat berjemaah tersebut menjadi momen hangat bagi warga negara Indonesia dan diaspora yang berada di Prancis. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

PONTIANAK POST — Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis kembali menuai sorotan. Lawatan keempat dalam empat tahun terakhir itu dinilai belum menunjukkan urgensi yang jelas, terutama di tengah tekanan ekonomi dan kebijakan efisiensi anggaran yang sedang dijalankan pemerintah.

Sorotan muncul setelah akun X Sekretariat Negara menyebut lawatan Prabowo ke Paris saat libur Iduladha sebagai upaya memperkuat “kerja sama super strategis” dengan Prancis. Namun hingga Rabu (28/5) malam, publik belum mendapat penjelasan rinci mengenai makna maupun hasil konkret dari kerja sama tersebut.

Kolom komentar unggahan itu dipenuhi pertanyaan publik terkait substansi kunjungan, mulai dari perbedaan “kerja sama strategis” dan “super strategis”, hingga manfaat langsung bagi masyarakat.

Pengajar Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Safril Mubah, mempertanyakan efektivitas kunjungan presiden yang dilakukan berulang kali ke negara yang sama.

Menurut dia, satu lawatan seharusnya cukup untuk menghasilkan kesepakatan strategis yang kemudian ditindaklanjuti melalui kerja diplomasi dan teknis di dalam negeri.

“Ketika rakyat diminta efisiensi, ternyata pemimpin di atas tidak melakukan itu,” katanya kepada Jawa Pos.

Safril menilai lawatan berulang tersebut kontras dengan kebijakan penghematan anggaran yang diterapkan pemerintah kepada kementerian, lembaga, hingga perguruan tinggi.

Ia juga menyoroti sebagian agenda diplomasi yang dinilai sebenarnya masih dapat dilakukan secara daring.

“Harusnya, dalam situasi sekarang ini presiden menahan diri untuk tidak berkunjung ke luar negeri,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kunjungan Prabowo ke Paris dilakukan untuk memenuhi undangan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Menurut dia, undangan tersebut sempat tertunda karena jadwal kedua kepala negara tidak cocok.

“Karena sudah diajukan dua kali, Pak Presiden Prabowo memenuhi undangan ini,” kata Sugiono.

Ia menjelaskan lawatan tersebut juga merupakan kunjungan balasan setelah Macron datang ke Indonesia pada 27–28 Mei 2025.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut hubungan Indonesia dan Prancis saat ini bersifat saling melengkapi, terutama dalam hubungan Eropa dan Asia Tenggara.

Menurut Teddy, Prancis merupakan mitra penting Indonesia di kawasan Eropa.

Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai kunjungan tersebut menunjukkan pentingnya posisi Prancis dalam kebijakan strategis Indonesia.

Ia memperkirakan pertemuan kedua kepala negara akan membahas sektor pertahanan, energi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Namun kritik publik muncul karena pemerintah dinilai belum terbuka mengenai target maupun capaian konkret dari lawatan luar negeri tersebut.

Safril menilai masyarakat berhak mengetahui manfaat langsung dari setiap perjalanan diplomatik kepala negara.

“Masyarakat perlu mengetahui agenda, target, serta capaian konkret dari setiap lawatan internasional kepala negara,” katanya.

Ia juga mempertanyakan urgensi banyaknya pejabat yang ikut dalam rombongan presiden ke luar negeri.

Menurut dia, setiap anggota delegasi seharusnya memiliki tugas yang relevan dan terukur sesuai agenda lawatan.

“Apa pentingnya mengajak seskab misalnya, itu kan harus diukur,” ujarnya. (jpc)

 

Tabel. Empat Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis

Waktu Kunjungan Agenda dan Sorotan
13–15 Juli 2025 Prabowo menghadiri undangan Presiden Emmanuel Macron sebagai tamu kehormatan Bastille Day di Paris. Didampingi Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Membahas hubungan bilateral dan konflik Israel-Palestina. Indonesia juga mengirim kontingen TNI/Polri dan taruna dalam parade militer.
23–24 Januari 2026 Prabowo memenuhi undangan makan malam di Istana Élysée bersama Macron. Lawatan dilakukan usai kunjungan kerja ke Inggris dan Swiss.
14 April 2026 Prabowo bertemu Macron di Istana Élysée setelah lawatan dari Rusia. Pembahasan meliputi energi, pendidikan, komunikasi digital, dan investasi.
26 Mei 2026 Menurut Teddy Indra Wijaya, kunjungan bertujuan memperkuat kerja sama super strategis Indonesia-Prancis. Prabowo didampingi putranya Ragowo Hediprasetyo (Didit), Rosan Roeslani, dan Teddy. Prabowo juga melaksanakan Salat Iduladha di KBRI Paris.

Sumber: Berbagai sumber

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
lawatan Prabowo ke Prancis kritik kunjungan luar negeri presiden efisiensi anggaran pemerintah kerja sama strategis Indonesia Prancis Prabowo Emmanuel Macron