Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Gas Barbeque Diduga Jadi Penyebab, Satu Keluarga Meninggal saat Glamping

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 29 Mei 2026 | 23:11 WIB
Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP di lokasi meninggalnya wisatawan sekeluarga di Temanggung. (Dokumentasi Polres Temanggung)
Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP di lokasi meninggalnya wisatawan sekeluarga di Temanggung. (Dokumentasi Polres Temanggung)

 

PONTIANAK POST — Polisi masih menyelidiki penyebab meninggalnya empat anggota keluarga saat glamping di kawasan wisata alam Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dugaan awal mengarah pada keracunan gas hasil pembakaran barbeque di dalam area tenda tertutup.

Korban adalah pasangan Muhamad Ali Munawar, 52, dan Maghfirah, 43, bersama dua anak mereka, Bagas Amar Hakiki, 21, serta Alvino Evan Hakim, 16. Salah satu korban, Bagas, diketahui merupakan fotografer muda di lingkungan Keraton Yogyakarta sekaligus mahasiswa aktif Universitas Gadjah Mada.

Polisi Selidiki Dua Dugaan Penyebab

Kasat Reskrim Polres Temanggung I Komang Mahendra Deputra mengatakan penyidik masih melakukan pendalaman terkait penyebab kematian para korban.

Empat saksi dari pihak pengelola wisata telah dimintai keterangan. Polisi juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dari Polda Jawa Tengah.

“Pertama keracunan makanan, kedua keracunan gas hasil pembakaran. Namun ini masih dugaan awal, kami masih menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium,” ujar Komang, Kamis (29/5).

Autopsi dilakukan terhadap korban berinisial AEH, 17, yang disebut memiliki kondisi fisik paling prima karena berstatus atlet.

Kompor Portable Ditemukan di Depan Tenda

Dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan satu set kompor gas portable berada di teras atau mulut tenda glamping.

Saat ditemukan, regulator masih terpasang dalam posisi off, namun tabung gas sudah kosong.

Temuan itu memperkuat dugaan adanya paparan gas karbon monoksida (CO) dari proses pembakaran barbeque yang terperangkap di dalam tenda.

“Kompor berada tepat di depan pintu tenda. Dugaan sementara, gas hasil pembakaran naik dan masuk ke dalam tenda,” kata Komang.

Tenda berbentuk limas berukuran 4 x 7 meter itu diketahui ditempati empat korban dengan fasilitas dua kasur dan sleeping bag.

Menurut polisi, setelah aktivitas barbeque selesai, pintu serta ventilasi kanan dan kiri tenda diduga tertutup rapat sehingga asap pembakaran terus terhirup para korban saat tidur.

Tidak Ditemukan Tanda Kekerasan

Polisi memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan fisik pada tubuh korban, baik akibat benda tajam maupun benda tumpul.

Dari hasil pemeriksaan dokter, korban diperkirakan telah meninggal antara 8 hingga 12 jam sebelum ditemukan pada Rabu (27/5) pukul 15.45 WIB.

Saat ditemukan, tubuh korban sudah dalam kondisi kaku dengan posisi tangan menggenggam.

Selain kompor portable, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti lain seperti sisa makanan barbeque, kamera, lima telepon genggam, mobil Honda Jazz, hingga tungku tanah liat pembakar briket.

Pegawai Wisata Curiga karena Korban Tak Keluar Tenda

Korban pertama kali ditemukan oleh pegawai objek wisata bernama Anas Mustafirin, 22.

Anas mengatakan awalnya ia datang sekitar pukul 09.00 WIB untuk mengantarkan sarapan ke tenda korban.

“Sarapannya, Pak,” ujar Anas menirukan panggilannya kepada korban.

Namun tidak ada jawaban dari dalam tenda. Ia kemudian meletakkan sarapan di teras glamping.

Sekitar pukul 11.30 WIB, Anas kembali datang untuk membersihkan area karena waktu check out hampir tiba. Namun korban tetap tidak memberikan respons.

Rasa curiga muncul ketika hingga sore hari tidak ada aktivitas dari dalam tenda. Bersama rekannya, Zaki Ambali, 23, mereka akhirnya membuka tenda dan mendapati keempat tamu sudah meninggal dunia.

Duka Mendalam di Keraton Yogyakarta dan UGM

Kabar meninggalnya Bagas Amar Hakiki turut meninggalkan duka mendalam di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Bagas dikenal sebagai fotografer muda di tim dokumentasi Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta.

“Bagas kami kenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan. Kami sangat kehilangan,” ujar Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta Nyi RW Kartiutami Guritno.

Selain aktif sebagai fotografer, Bagas juga tercatat sebagai mahasiswa Sastra Prancis angkatan 2022 di Universitas Gadjah Mada.

Menurut Kartiutami, Bagas awalnya mengikuti program magang di Kawedanan Tandha Yekti pada 2024 sebelum akhirnya direkrut menjadi bagian tim dokumentasi karena kemampuan fotografinya dinilai menonjol. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#glamping Temanggung #keracunan gas barbeque #satu keluarga meninggal #wisata Posong Temanggung #karbon monoksida tenda glamping