Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Padi Gamagora 7 Diuji di Kaltim, Siap Jadi Andalan Lahan Tadah Hujan: Produktivitas Hingga 9,7 Ton per Hektare

Efprizan • Minggu, 31 Mei 2026 | 18:57 WIB

 

Uji coba padi Gamagora 7 di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, untuk menguji produktivitas dan ketahanannya pada lahan basah serta tadah hujan. (Dok.UGM)
Uji coba padi Gamagora 7 di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, untuk menguji produktivitas dan ketahanannya pada lahan basah serta tadah hujan. (Dok.UGM)

PONTIANAK POST - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mulai menguji varietas padi Gamagora 7 di Kalimantan Timur sebagai solusi pertanian lahan tadah hujan sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus inovator Gamagora 7, Prof. Taryono, mengatakan varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan pertanian di wilayah dengan ketersediaan air yang tidak menentu melalui produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta kandungan gizi yang lebih baik.

“Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujar Taryono, Sabtu (30/5), dikutip dari laman resmi UGM.

Baca Juga: Pacu Produksi Pangan Nasional, Kementan Tanam Padi Serentak di 25 Provinsi Sekaligus

Dikembangkan Hampir 20 Tahun

Menurut Taryono, proses perakitan Gamagora 7 dimulai sejak 2008 dan baru resmi dilepas pada 2023 setelah melalui rangkaian penelitian dan pengujian di berbagai daerah Indonesia.

Pengujian dilakukan di delapan lokasi yang mewakili Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, dan Nusa Tenggara Barat sebelum memperoleh izin pelepasan varietas.

“Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama,” katanya.

Gamagora 7 memiliki potensi produktivitas hingga 9,7 ton gabah kering giling per hektare dan menjadi satu-satunya varietas dari puluhan galur penelitian tim UGM yang telah memperoleh izin komersialisasi dari pemerintah.

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Picu Penurunan Produksi Padi, Jagung Jadi Komoditas Unggulan Baru Kalbar

Meski secara administratif dilepas sebagai padi sawah, Taryono menyebut Gamagora 7 sejak awal dirancang agar mampu beradaptasi pada lahan tadah hujan yang luas di Indonesia.

“Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya,” jelasnya.

Diuji pada Dua Kondisi Lahan

Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, mengatakan uji coba dilakukan di Kabupaten Penajam Paser Utara sebagai bagian dari upaya menghubungkan hasil riset kampus dengan kebutuhan petani di lapangan.

Menurutnya, Kalimantan Timur dipilih karena memiliki tantangan pertanian yang kompleks, mulai dari pola iklim tropis yang tidak menentu hingga kondisi tanah yang relatif miskin unsur hara.

Baca Juga: Karolin Tekankan Pentingnya Tata Kelola Air Saat Tanam Perdana Padi di Temiang Sawi

“Kondisi iklim seperti itu yang membuat kami tertantang untuk mencoba apakah Gamagora 7 ini bisa ditanam,” ujarnya.

Uji coba dilakukan di lahan seluas satu hektare yang dibagi menjadi dua bagian, yakni lahan basah dan lahan tadah hujan.

Metode tersebut digunakan untuk menguji klaim Gamagora 7 sebagai padi “amfibi” yang mampu tumbuh pada dua kondisi lahan berbeda.

“Oleh karena itu, kemarin kita dampingi satu hektare dibagi untuk dua lahan. Kita coba dan sekarang sudah mulai tumbuh,” jelas Idhi.

Baca Juga: Wabup Sambas Dorong Petani Terbuka Terhadap Inovasi untuk Tingkatkan Produksi Padi

Harapan bagi Petani dan Ketahanan Pangan

Selain pendampingan budidaya, KAGAMA Kalimantan Timur juga memberikan edukasi kepada petani agar proses pengujian berjalan sesuai standar penelitian yang ditetapkan UGM.

Data dari uji coba tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi UGM untuk menyempurnakan pengembangan Gamagora 7 sebelum diperluas ke wilayah lain di Kalimantan Timur, termasuk Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.

Taryono menilai potensi Gamagora 7 cukup besar untuk mendukung kemandirian pangan nasional karena Indonesia memiliki lahan tadah hujan yang sangat luas.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan varietas unggul masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan benih, fasilitas penelitian, lahan percobaan, dan dukungan pendanaan berkelanjutan.

Baca Juga: Panen Padi di Singkawang Gunakan Combine Harvester, Poktan Pandan Sari Amankan 4,5 Ton Gabah

“Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” tuturnya.

Idhi berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah, dan petani dapat menjadi model pengembangan inovasi pertanian yang bisa diterapkan di berbagai daerah.

“Harapan kami tentu ini bisa berhasil, sehingga nanti dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)

Editor : Efprizan
#Padi Gamagora 7 #padi tadah hujan #ugm #penajam paser utara #ketahahanan pangan