Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bom Perang Dunia II di Biak Digergaji Warga Lalu Meledak, Lima Tewas Termasuk Dua Anak

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 1 Juni 2026 | 23:06 WIB
LEDAKAN: Ledakan bom menerjang kawasan padat penduduk di Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, tepat di samping Kantor Dinas Perikanan, Pusat Kota Biak, Papua, pada Minggu (31/5) sore sekitar pukul 15.00 WIT. /// TANGKAPAN LAYAR VIDEO WARGA/DIOLAH DENGAN AI
LEDAKAN: Ledakan bom menerjang kawasan padat penduduk di Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, tepat di samping Kantor Dinas Perikanan, Pusat Kota Biak, Papua, pada Minggu (31/5) sore sekitar pukul 15.00 WIT. /// TANGKAPAN LAYAR VIDEO WARGA/DIOLAH DENGAN AI

PONTIANAK POST – Dentuman keras mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Minggu (31/5) sekitar pukul 15.00 WIT. Ledakan tersebut berasal dari bom aktif peninggalan Perang Dunia II yang diduga sedang digergaji oleh warga.

Tragedi itu menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk dua anak-anak, dan membuat tiga orang lainnya masih dalam pencarian hingga Minggu malam.

Warga mengaku suara ledakan terdengar hingga beberapa kilometer dari lokasi kejadian. Getaran yang ditimbulkan bahkan dirasakan hingga Kampung Baru, Distrik Samofa.

Idris, salah seorang warga, mengatakan dentuman tersebut begitu kuat hingga menyerupai gempa bumi.

"Getarannya kuat sekali, mirip gempa bumi. Pas dicek di media sosial, ternyata ada ledakan dari arah pantai," ujarnya dikutp dari Cepos Online (grup Pontianak Post).

Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan juga merusak sejumlah rumah warga yang sebagian besar berbahan kayu.

Korban meninggal dunia masing-masing bernama Deflin Raubaba (41), Moris Raubaba (24), Karmila Ayorbaba (25), Israel Raubaba (7), dan Isril Raubaba (5).

Seluruh jenazah telah dievakuasi ke RSUD Biak sebelum dimakamkan di TPU Surido, Biak Kota.

Sementara itu, tiga warga lainnya yang dilaporkan berada di sekitar lokasi saat ledakan terjadi masih dalam proses pencarian.

Pasca ledakan, aparat kepolisian langsung memasang garis polisi dan menutup area kejadian.

Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengatakan lokasi ledakan belum dapat dinyatakan aman karena masih terdapat potensi serpihan maupun material berbahaya lainnya.

Personel Brimob Polda Papua diterjunkan untuk melakukan penyisiran dan sterilisasi kawasan.

"Kami menyarankan dan meminta kepada seluruh masyarakat agar menjauhi lokasi karena area tersebut dipastikan belum aman," katanya.

Pulau Biak merupakan salah satu lokasi pertempuran terbesar antara pasukan Sekutu dan Jepang pada Perang Dunia II.

Pada 1944, kawasan ini menjadi medan perang sengit ketika pasukan Sekutu melancarkan operasi besar untuk merebut Biak dari kekuatan Jepang yang bertahan di berbagai titik pertahanan, termasuk Gua Binsari.

Ribuan prajurit tewas dalam pertempuran tersebut. Namun perang yang berakhir puluhan tahun lalu ternyata masih meninggalkan ancaman.

Berbagai jenis amunisi, granat, hingga bom aktif masih sesekali ditemukan warga di sejumlah wilayah Pulau Biak.

Keberadaan sisa amunisi perang menjadi persoalan yang terus berulang di Biak. Dalam beberapa kasus sebelumnya, bahan peledak peninggalan perang ditemukan warga saat menggali tanah atau beraktivitas di sekitar kawasan bekas medan tempur.

Sebagian warga bahkan diketahui memanfaatkan material peledak tersebut untuk kepentingan ilegal, termasuk merakit bom ikan.

Tragedi di Kampung Yenures menjadi pengingat bahwa perang yang berakhir lebih dari 80 tahun lalu masih meninggalkan bahaya nyata bagi masyarakat.

Kini, di tengah duka yang menyelimuti keluarga korban, aparat masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada lagi ancaman bom aktif yang tersisa di lokasi ledakan. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#bom Perang Dunia II Biak #ledakan bom Biak #Kampung Yenures #korban ledakan Biak #bom peninggalan perang Papua