PONTIANAK POST - Limbah pengolahan bauksit atau red mud selama ini dikenal sebagai salah satu persoalan lingkungan dalam industri alumina karena jumlahnya yang besar dan membutuhkan area penyimpanan luas.
Namun sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa residu bauksit ternyata menyimpan mineral bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali, termasuk skandium dan logam tanah jarang.
Pada Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara yang diterbitkan Kementerian ESDM dan melibatkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), disebutkan bahwa residu bauksit mengandung logam tanah jarang termasuk skandium yang berpotensi diekstraksi melalui proses pengolahan tertentu.
Skandium Termasuk Mineral yang Banyak Dicari Industri Modern
Skandium merupakan unsur logam langka yang digunakan pada macam teknologi canggih, mulai dari industri dirgantara hingga material berbasis aluminium berkekuatan tinggi.
Menurut United States Geological Survey (USGS), skandium termasuk mineral kritis yang memiliki peran penting dalam rantai pasok teknologi modern dan energi masa depan.
USGS menjelaskan pasokan skandium dunia masih terbatas karena umumnya tidak ditambang secara khusus, melainkan diperoleh sebagai produk sampingan dari pengolahan mineral lain.
Kalimantan Barat Punya Potensi Besar
Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia.
Besarnya aktivitas pengolahan bauksit membuat potensi residu bauksit atau red mud di daerah ini juga sangat besar.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara menyebut Indonesia memiliki deposit bauksit besar yang diolah menjadi alumina dan menghasilkan residu bauksit sebagai produk samping.
Residu tersebut mengandung logam tanah jarang termasuk skandium.
Dari Masalah Lingkungan Menjadi Peluang Ekonomi
Peneliti menilai pemanfaatan residu bauksit dapat memberikan dua manfaat sekaligus.
Selain membantu mengurangi persoalan penumpukan limbah industri, ekstraksi mineral bernilai tinggi dari red mud juga berpotensi membuka sumber ekonomi baru.
Dalam kajian yang sama, peneliti berhasil memperoleh tingkat ekstraksi skandium hingga lebih dari 88 persen melalui metode pelindian asam dua tahap pada residu bauksit.
Baca Juga: Skandium Diburu Industri Pesawat dan Kendaraan Listrik Dunia, Ada di Tambang Bauksit Kalbar
Temuan tersebut menunjukkan bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi ternyata masih menyimpan mineral strategis yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Dunia Sedang Memburu Mineral Kritis
Permintaan terhadap logam tanah jarang dan mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, hingga industri pertahanan.
Peneliti BRIN yang dikutip Antara (24/8/2024) menyebut logam tanah jarang merupakan kelompok unsur yang sangat penting dalam teknologi modern, namun sumber dayanya terbatas dan pasokannya masih didominasi sejumlah negara tertentu.
Karena itu, sumber-sumber mineral alternatif seperti limbah tambang dan residu industri mulai dilirik sebagai bagian dari strategi pengembangan mineral masa depan.
Tantangan Teknologi Masih Besar
Meski potensinya besar, pengolahan skandium dari residu bauksit masih membutuhkan teknologi pemisahan yang kompleks dan investasi yang tidak sedikit.
Penelitian BRIN dan ESDM menunjukkan proses ekstraksi memerlukan tahapan pengolahan kimia dan metalurgi khusus agar kandungan skandium dapat dipisahkan secara ekonomis.
Namun jika teknologi tersebut berhasil dikembangkan dalam skala industri, limbah bauksit yang dulu dianggap sebagai masalah lingkungan berpotensi berubah menjadi tambang baru yang bernilai tinggi bagi Kalimantan Barat dan Indonesia. (*)
Editor : Miftahul Khair