PONTIANAK POST - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi target negara-negara besar karena memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan bernilai strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan Yusril dalam seminar nasional yang membahas tantangan regulasi ekonomi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Universitas Negeri Surabaya beberapa waktu lalu.
Menurut Yusril, persaingan geopolitik global yang semakin ketat membuat negara-negara dengan cadangan energi dan mineral strategis menjadi perhatian kekuatan dunia.
“Target selain Greenland, negara mana? Ya ini yang dikejar,” ujar Yusril dalam keterangannya.
Indonesia Miliki Cadangan Mineral Strategis Bernilai Tinggi
Yusril menilai posisi Indonesia sangat strategis karena memiliki berbagai sumber daya alam yang dibutuhkan industri modern dan pertahanan global.
Salah satu kekayaan yang menjadi sorotan adalah logam tanah jarang atau Rare Earth Elements (REE), kelompok mineral yang saat ini menjadi komoditas penting dalam persaingan teknologi dunia.
Indonesia diketahui memiliki potensi logam tanah jarang yang cukup besar. Kondisi tersebut didukung oleh struktur geologi Indonesia yang kompleks dan kaya akan berbagai jenis mineral.
Logam tanah jarang menjadi bahan baku penting dalam pengembangan teknologi tinggi, energi terbarukan, hingga industri pertahanan.
Pada Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara yang diterbitkan Kementerian ESDM dan melibatkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), disebutkan bahwa residu bauksit mengandung logam tanah jarang termasuk skandium yang berpotensi diekstraksi melalui proses pengolahan tertentu.
Digunakan untuk Industri Teknologi dan Pertahanan Modern
Rare Earth Elements memiliki peran penting dalam berbagai sektor strategis dunia.
Mineral tersebut digunakan sebagai komponen mesin jet tempur, pesawat komersial, sistem persenjataan modern, hingga teknologi rudal.
Selain sektor pertahanan, logam tanah jarang juga menjadi bahan utama dalam produksi perangkat elektronik, alat pendeteksi bawah laut, sistem antirudal, perangkat pelacak, pembangkit energi satelit, serta teknologi komunikasi.
Permintaan global terhadap mineral ini terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, kecerdasan buatan, semikonduktor, dan teknologi energi bersih.
Baca Juga: Limbah Bauksit Skandium Kini Dicari Industri Modern Dunia, Kalbar Punya Peluang Jadi Pemasok Utama
Persaingan Geopolitik dan Perebutan Sumber Daya Strategis
Pernyataan Yusril muncul di tengah meningkatnya persaingan global untuk mengamankan akses terhadap sumber daya strategis.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu penguasaan mineral kritis menjadi perhatian banyak negara karena berkaitan langsung dengan keamanan energi, industri teknologi, dan pertahanan nasional.
Menurut sejumlah analis, negara yang memiliki cadangan mineral strategis berpotensi memainkan peran penting dalam peta ekonomi dan geopolitik dunia.
Karena itu, pengelolaan sumber daya alam dinilai harus dilakukan secara hati-hati agar memberikan manfaat maksimal bagi kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Skandium Diburu Industri Pesawat dan Kendaraan Listrik Dunia, Ada di Tambang Bauksit Kalbar
Menurutnya, Indonesia harus bersikap hati-hati dalam mengambil posisi politik luar negeri karena kondisi pertahanan nasional masih menghadapi berbagai tantangan.
Yusril menegaskan bahwa kekuatan militer merupakan salah satu syarat utama bagi sebuah negara untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
"Kita dalam kondisi terus terang tidak siap perang. Hitung berapa kekuatan militer kita, angkatan laut kita, angkatan udara kita. Kalau kita perang paling kita mampu perang 4 hari. Setelah itu kita kehabisan amunisi," kata Yusril dalam seminar yang diunggah di kanal YouTube pribadinya (27/5).
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling banyak menarik perhatian publik karena menyinggung secara langsung kesiapan pertahanan Indonesia menghadapi konflik terbuka.
Soroti Pentingnya Kekuatan Militer
Menko Bidang Hukum itu juga menjelaskan bahwa sebuah negara harus memiliki empat fondasi utama agar mampu bertahan menghadapi berbagai ancaman, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, stabilitas sosial-politik, dan pertahanan yang kuat.
Menurutnya, pembangunan sektor pertahanan tidak bisa diabaikan karena situasi global saat ini menunjukkan bahwa hukum internasional sering kali tidak cukup untuk mencegah konflik.
"Negara itu harus punya kekuatan. Pertama harus memiliki ketahanan di bidang pangan, ketahanan di bidang energi, stabilitas sosial dan politik, dan pertahanan yang tangguh," ujarnya.
Ia juga menilai penguatan militer menjadi langkah penting agar Indonesia tidak mudah mendapatkan tekanan dari negara lain.
"Tanpa militer yang kuat, kita gampang digertak orang lain," kata Yusril.
Politik Bebas Aktif Dinilai Tetap Relevan
Dalam kesempatan yang sama, Yusril menilai politik luar negeri bebas aktif yang dirumuskan oleh Mohammad Hatta masih sangat relevan diterapkan Indonesia saat ini.
Menurutnya, posisi Indonesia yang berada di kawasan strategis membuat pemerintah harus selalu mempertimbangkan kepentingan nasional dalam setiap keputusan diplomatik.
Ia mencontohkan keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di Guam yang lokasinya relatif dekat dengan kawasan timur Indonesia.
"Di sinilah kita harus menjalankan politik bebas aktif yang dulu dirumuskan oleh Pak Hatta dan Pak Natsir. Politik bebas aktif, tidak memihak sana dan tidak memihak sini. Segala sesuatunya harus mempertimbangkan kepentingan nasional kita sendiri," ungkapnya.
Ingatkan Tantangan Geopolitik Masa Depan
Selain membahas ekonomi digital dan kecerdasan buatan yang menjadi tema utama seminar, Yusril juga mengingatkan bahwa persaingan global ke depan tidak hanya terkait teknologi, tetapi juga perebutan sumber energi dan mineral strategis.
Karena itu, menurutnya Indonesia harus memperkuat kapasitas nasional di berbagai sektor, termasuk pertahanan, agar tidak bergantung pada negara lain.
"Jangan kita menggantungkan nasib kita kepada bangsa lain. Tidak ada yang akan menolong kita kecuali kita sendiri," pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair