Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Kembali, Indonesia Hadapi Risiko Kekeringan Juni–Agustus

Uray Ronald • Selasa, 2 Juni 2026 | 18:26 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Pontianak.
Ilustrasi cuaca panas di Pontianak.

 

PONTIANAK POST – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena El Nino berpeluang berkembang dalam beberapa bulan mendatang dengan probabilitas mencapai 80 persen pada periode Juni–Agustus.

Fenomena ini berpotensi memicu cuaca lebih kering di Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan, gelombang panas, dan gangguan terhadap kehidupan masyarakat serta sektor pangan.

WMO menyatakan peluang El Nino bertahan hingga setidaknya November mencapai 90 persen atau lebih.

Kondisi tersebut dipicu oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di Samudra Pasifik tropis, yang memengaruhi pola curah hujan dan temperatur global.

Indonesia Berisiko Mengalami Cuaca Lebih Kering

Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi mengalami dampak signifikan jika El Nino berkembang penuh. 

Menurut WMO, fenomena ini umumnya membawa kondisi lebih kering ke Indonesia, Australia, sebagian Asia Selatan, Karibia, Amerika Tengah, dan wilayah utara Amerika Selatan.

Baca Juga: Petani Sawit Dihadapkan Bencana El Nino: Kekeringan dan Karhutla di Depan Mata, Kementan Perkuat Pengawasan

Berkurangnya curah hujan dapat memperbesar risiko kekeringan, penurunan ketersediaan air, serta ancaman terhadap produksi pertanian.

Dampak tersebut tidak hanya menyentuh sektor ekonomi, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air dan hasil pertanian.

Pengalaman pada peristiwa El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa musim kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Indonesia.

PBB Sebut El Nino sebagai Peringatan Iklim Mendesak

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa dunia harus memandang El Nino sebagai peringatan serius di tengah tren pemanasan global yang terus berlangsung.

"Ilmu pengetahuan sudah jelas. El Nino sedang menuju ke depan pintu kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90 persen," kata Guterres dilansir Anadolu.

Ia memperingatkan bahwa El Nino dapat memperparah dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan masyarakat di berbagai negara.

Baca Juga: Penjelasan BMKG Soal Indonesia Sudah Masuk El Nino, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi

Menurutnya, efeknya dapat menyebar lebih luas, bergerak lebih cepat melintasi batas negara, dan memperbesar dampak kemanusiaan akibat cuaca ekstrem.

Data WMO menunjukkan El Nino periode 2023–2024 termasuk dalam lima peristiwa terkuat yang pernah tercatat dan turut berkontribusi terhadap rekor suhu global pada 2024.

Ancaman Kekeringan, Hujan Ekstrem, dan Gelombang Panas

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengingatkan bahwa dunia perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat.

Menurutnya, fenomena tersebut dapat memperparah kekeringan di sejumlah wilayah, sekaligus meningkatkan curah hujan ekstrem dan risiko banjir di kawasan lain. Gelombang panas juga berpotensi terjadi lebih sering, baik di daratan maupun lautan.

WMO memperkirakan periode Juni hingga Agustus akan diwarnai suhu di atas normal pada hampir seluruh wilayah dunia.

Baca Juga: El Nino, Tapi Pontianak Justru Diguyur Hujan Terus, BMKG Supadio Berikan Penjelasan

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan panas terhadap manusia, memperburuk kekeringan di daerah yang mengalami penurunan curah hujan, dan mengganggu ketahanan pangan.

Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Amerika Selatan bagian selatan, Afrika Timur, Asia Tengah, dan sebagian Amerika Serikat justru berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi dari biasanya.

Pentingnya Sistem Peringatan Dini

WMO menegaskan bahwa prakiraan musim dan sistem peringatan dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem.

Langkah antisipasi yang lebih cepat memungkinkan pemerintah, petani, dan masyarakat menyiapkan strategi menghadapi potensi kekeringan maupun bencana hidrometeorologi lainnya.

Bagi Indonesia, kesiapsiagaan menjadi faktor penting mengingat El Nino dapat memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, hingga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Baca Juga: Pemerintah Pusat Waspadai Kalbar, Curah Hujan Terendah akibat El Nino Bikin Karhutla Lebih Parah

Fenomena El Nino sendiri merupakan fase hangat dari pola iklim El Niño–Southern Oscillation yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan biasanya berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. 

Ketika suhu laut di Pasifik tengah dan timur meningkat di atas normal, pola cuaca global ikut berubah dan memicu dampak berbeda di berbagai belahan dunia.*

Editor : Uray Ronald
#El Nino 2026 #WMO #cuaca ekstrem Indonesia #kekeringan Indonesia #Perubahan Iklim