PONTIANAK POST – Kuliah umum Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (2/6/2026), berubah menjadi forum penyelesaian persoalan pertanian. Saat mahasiswa menyampaikan keluhan petani terkait pupuk bersubsidi dan kerusakan irigasi di Kabupaten Gowa, Mentan Amran langsung memerintahkan jajarannya melakukan pengecekan dan penanganan di lapangan.
Respons cepat tersebut menjadi sorotan di hadapan sekitar 300 mahasiswa yang mengikuti kegiatan. Bagi banyak petani, persoalan pupuk dan irigasi bukan sekadar isu administrasi, melainkan menyangkut keberlangsungan musim tanam dan pendapatan keluarga.
Keluhan dari Sawah Sampai ke Kampus
Salah satu mahasiswa, Arham, menyampaikan bahwa sejumlah petani di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, masih mengalami kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
Mendengar laporan tersebut, Mentan Amran langsung menghubungi direktur terkait untuk melakukan verifikasi di lapangan.
“Kalau memang benar ada distributor yang menyebabkan petani kesulitan mendapatkan pupuk, segera cek. Kalau terbukti melanggar, cabut izinnya,” tegas Mentan Amran.
Tak hanya persoalan pupuk, mahasiswa juga melaporkan kondisi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan dan berpotensi mengganggu aktivitas pertanian masyarakat.
Menanggapi hal itu, Mentan Amran segera memerintahkan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Selatan untuk mengawal penyelesaian persoalan tersebut.
Ketika Aspirasi Mahasiswa Menjadi Solusi bagi Petani
Respons spontan Mentan Amran mendapat perhatian peserta kuliah umum. Persoalan yang disampaikan mahasiswa tidak berhenti sebagai bahan diskusi akademik, tetapi langsung ditindaklanjuti dengan langkah konkret.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena mahasiswa pertanian sering menjadi jembatan informasi antara pemerintah dan kondisi riil yang dihadapi petani di lapangan.
Swasembada Pangan di Tengah Ancaman Alih Fungsi Lahan
Dalam sesi dialog, mahasiswa juga mempertanyakan strategi pemerintah mempertahankan swasembada beras di tengah tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Menjawab pertanyaan tersebut, Mentan Amran menegaskan pemerintah terus memperkuat fondasi produksi pertanian melalui pembangunan dan rehabilitasi irigasi, penyediaan benih unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian, optimalisasi lahan, serta perlindungan lahan sawah.
Menurutnya, sawah dan jaringan irigasi merupakan aset strategis yang harus dijaga untuk menjamin ketahanan pangan nasional.
“Alih fungsi lahan sawah tidak boleh dibiarkan. Sawah dan irigasi harus kita jaga karena menjadi fondasi utama ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Hilirisasi Sawit untuk Kemandirian Energi
Selain isu pangan, mahasiswa juga menyoroti peluang pengembangan energi terbarukan berbasis sektor pertanian.
Mentan Amran menjelaskan bahwa hilirisasi kelapa sawit menjadi biodiesel merupakan salah satu strategi besar pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup untuk menjadi kekuatan besar di sektor pangan dan energi apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Kritik yang Jujur Adalah Sahabat Pembangunan
Di akhir diskusi, Mentan Amran mengajak mahasiswa membiasakan budaya tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil kesimpulan.
Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam pembangunan selama didasarkan pada fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kritik itu penting. Pengkritik yang jujur adalah sahabat sejati. Karena itu, setiap informasi harus dicek dan dilihat secara utuh agar kita bisa mengambil keputusan yang benar,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan petani.
Harapan untuk Generasi Muda Pertanian
Antusiasme mahasiswa dalam menyampaikan pertanyaan dan aspirasi mendapat apresiasi langsung dari Mentan Amran.
Ia berharap generasi muda pertanian tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Saya senang dengan pertanyaan kalian. Saya ingin kalian lebih baik dari saya. Kalian yang akan melanjutkan perjuangan membangun pertanian Indonesia ke depan,” tutupnya.
Bagi para petani yang selama ini menghadapi berbagai tantangan di lapangan, respons cepat terhadap keluhan yang disampaikan mahasiswa menjadi harapan bahwa suara mereka tetap didengar dan dapat mendorong perubahan nyata. (**)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro