Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kampus Boleh Dirikan Dapur MBG, Mendiktisaintek: Sebagai Teaching Factory, Bukan Kewajiban

Uray Ronald • Selasa, 2 Juni 2026 | 19:27 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Antara)
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Antara)

 

PONTIANAK POST - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan perguruan tinggi diperbolehkan mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, kebijakan tersebut bersifat sukarela dan bukan kewajiban bagi seluruh kampus di Indonesia.

Menurut Brian, keberadaan SPPG di lingkungan perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai teaching factory atau sarana praktik langsung bagi mahasiswa. 

SPPG kampus juga bisa sekaligus menjadi laboratorium penelitian untuk mengukur dampak jangka panjang program gizi nasional terhadap kesehatan masyarakat.

Kampus Didorong Jadi Pusat Praktik dan Inovasi Program MBG

Perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dipersilakan membangun SPPG sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik.

Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Jakarta, Selasa (2/6), Brian menyebut sejumlah kampus telah mengembangkan SPPG yang terintegrasi dengan kegiatan akademik mahasiswa.

Baca Juga: Bahlil Cari Pembuat Lagu MBG Viral, Ingin Ajak Makan

Melalui model ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengelola layanan pemenuhan gizi, tetapi juga terlibat dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

"Beberapa kampus membuat SPPG dalam rangka teaching factory, dalam rangka mahasiswa praktik, sekaligus diteliti. Kami mempersilakan kampus-kampus tersebut," ujar Brian dilansir Antara.

Pendekatan ini dinilai dapat memperkuat kualitas pendidikan vokasional dan terapan karena mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola program yang berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pemenuhan gizi anak.

Tidak Ada Kewajiban Setiap Kampus Mendirikan SPPG

Brian menegaskan tidak pernah ada kebijakan atau surat edaran yang mewajibkan seluruh perguruan tinggi mendirikan dapur MBG atau SPPG.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons berbagai pandangan yang menganggap kampus akan dibebani tugas administratif tambahan dalam pelaksanaan Program MBG.

"Kami tidak pernah ada edaran kebijakan bahwa setiap kampus harus mendirikan SPPG. Itu tidak pernah ada," kata Brian.

Menurutnya, pemerintah hanya mendorong keterlibatan dunia pendidikan tinggi dalam berbagai program strategis nasional sesuai kapasitas dan kompetensi masing-masing institusi.

Baca Juga: Pelaksana Bantah Pembangunan Dapur MBG Desa Nanga Dua-Kapuas Hulu Tidak Sesuai Standar

Model kolaborasi tersebut sebelumnya juga diterapkan pada berbagai agenda pembangunan nasional, termasuk riset kendaraan listrik, industri semikonduktor, hingga proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall.

Fokus Utama Kampus Adalah Riset Dampak Gizi dan Stunting

Selain mendukung operasional SPPG, perguruan tinggi didorong berkontribusi melalui penelitian ilmiah yang mengukur efektivitas Program MBG dalam jangka panjang.

Brian menilai peran akademisi sangat penting untuk memastikan program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia mencontohkan penelitian terkait penurunan angka stunting, peningkatan status gizi anak, hingga dampak MBG terhadap perkembangan pendidikan dan produktivitas generasi muda.

Menurut Brian, kajian jangka panjang seperti itu sering kali tidak menjadi fokus utama pelaksana lapangan, sehingga membutuhkan keterlibatan kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Abdul Rani Nilai Audiensi MBG di DPRD Kayong Utara Sarat Kejanggalan dan Kepentingan

Ia juga mengutip hasil penelitian di India yang menunjukkan program makan bergizi dapat berkontribusi terhadap perbaikan status gizi dan penurunan kasus stunting jika dijalankan secara konsisten dan berbasis data.

Program MBG Dinilai Membutuhkan Dukungan Ilmiah Berkelanjutan

Keterlibatan perguruan tinggi dalam Program MBG dipandang penting untuk memastikan setiap kebijakan berbasis bukti ilmiah dan evaluasi yang terukur.

Melalui riset yang berkesinambungan, kampus dapat membantu pemerintah mengidentifikasi faktor keberhasilan maupun tantangan implementasi program di berbagai daerah Indonesia.

Bagi masyarakat, terutama anak-anak yang menjadi penerima manfaat, keberhasilan Program MBG tidak hanya berkaitan dengan tersedianya makanan bergizi setiap hari.

Program ini juga diharapkan mampu memperbaiki kualitas kesehatan, menekan angka stunting, serta menciptakan sumber daya manusia yang lebih sehat dan produktif pada masa depan.

Dengan pendekatan berbasis penelitian, perguruan tinggi berpeluang menjadi mitra strategis pemerintah dalam memastikan investasi negara di sektor gizi memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.*

Editor : Uray Ronald
#SPPG kampus #riset stunting #Brian Yuliarto #teaching factory #Makan Bergizi Gratis