PONTIANAK POST - Kalimantan Barat bukan lagi hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah tambang.
Kekayaan bauksit yang mencapai mayoritas cadangan nasional kini menempatkan provinsi ini sebagai salah satu wilayah strategis dalam agenda hilirisasi mineral Indonesia.
Posisi tersebut bahkan menjadi perhatian khusus Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI yang telah melakukan kajian mendalam terkait pengembangan industri pengolahan mineral dan logam tanah jarang di daerah ini.
Baca Juga: Bahas Hilirisasi Mineral dan Logam Tanah Jarang
Lemhannas Jadikan Kalbar Lokasi Kajian Hilirisasi Mineral
Lemhannas RI pernah menjadikan Kalimantan Barat sebagai salah satu lokasi utama pengumpulan data dalam penyusunan Kajian Strategis Jangka Panjang tentang hilirisasi mineral dan logam tanah jarang guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada laman resminya (24/3/2021), Tim Lemhannas melakukan diskusi dengan pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, hingga perusahaan tambang yang beroperasi di Kalbar.
Menurut Lemhannas, pemilihan Kalbar bukan tanpa alasan. Provinsi ini menyimpan sekitar 66,77 persen cadangan bauksit nasional yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Bauksit merupakan bahan baku utama aluminium yang memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi apabila diolah di dalam negeri dibandingkan diekspor dalam bentuk mentah.
Baca Juga: Kasus Kontainer Batam Memanas, Satgas PKH Ungkap Dugaan Logam Tanah Jarang dalam Muatan Ekspor
Bauksit Jadi Kekuatan Utama Kalbar
Potensi besar bauksit membuat Kalbar menjadi salah satu daerah kunci dalam kebijakan hilirisasi nasional.
Selama bertahun-tahun, bauksit menjadi komoditas andalan ekspor Kalbar. Namun pemerintah kini mendorong agar mineral tersebut diolah menjadi alumina hingga aluminium sebelum dipasarkan.
Langkah hilirisasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar, membuka lapangan kerja baru, serta meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap perekonomian daerah.
Karena itu, pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam.
Kalbar Jadi Episentrum Hilirisasi Aluminium
Perkembangan terbaru menunjukkan Kalbar semakin diperhitungkan dalam rantai industri aluminium nasional.
Merujuk laman Emedia DPR RI (13/2), Komisi VI DPR RI bahkan mendorong percepatan hilirisasi aluminium di Kalbar karena dinilai memiliki posisi strategis dalam rantai pasok industri global.
Sejumlah proyek pengolahan bauksit dan alumina di wilayah Mempawah juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional yang diproyeksikan meningkatkan daya saing industri Indonesia.
Bukan Hanya Tambang, Tetapi Ketahanan Ekonomi Nasional
Kajian Lemhannas menegaskan bahwa hilirisasi mineral bukan sekadar proyek industri, melainkan strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Pengolahan mineral di dalam negeri memungkinkan Indonesia memperoleh nilai tambah yang lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan mentah ke pasar internasional.
Dalam konteks Kalbar, potensi tersebut semakin besar karena daerah ini memiliki sumber daya mineral melimpah, lokasi strategis, serta mulai berkembangnya infrastruktur industri pendukung.
Tantangan Hilirisasi Masih Menanti
Walau potensinya besar, pengembangan hilirisasi di Kalbar juga menghadapi sejumlah tantangan.
Kesiapan SDM, pembangunan infrastruktur, kepastian investasi, hingga pengelolaan lingkungan menjadi penentu agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh banyak orang.
Dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia dan masuk dalam radar kajian strategis Lemhannas, Kalimantan Barat kini berada di posisi penting dalam peta hilirisasi nasional.
Pertanyaannya tidak lagi apakah Kalbar memiliki potensi? Melainkan secepat apa daerah ini dapat mengubah kekayaan mineral menjadi kekuatan ekonomi jangka panjang? (*)
Editor : Miftahul Khair