PONTIANAK POST - Kalimantan Barat kembali masuk radar pengembangan logam tanah jarang (LTJ) nasional setelah wilayah Melawi disebut memiliki salah satu potensi rare earth elements (REE) alias mineral tanah terbesar di Indonesia.
Namun di tengah dorongan hilirisasi mineral strategis, sejumlah pakar justru mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah.
Validasi data cadangan dan potensi LTJ dinilai menjadi pekerjaan rumah utama sebelum investasi besar digelontorkan.
Baca Juga: Kasus Kontainer Batam Memanas, Satgas PKH Ungkap Dugaan Logam Tanah Jarang dalam Muatan Ekspor
Pakar Ragukan Keabsahan Data Potensi LTJ Nasional
Merujuk laman Perhapi (11/2), Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Resvani, menyebut data potensi LTJ yang selama ini digunakan pemerintah masih perlu divalidasi lebih lanjut.
Dalam lokakarya, Resvani mengingatkan bahwa peta sebaran mineral kritis Indonesia belum seluruhnya disusun berdasarkan standar pelaporan yang berlaku secara internasional.
Ia menilai ketidakpastian data dapat menyulitkan pemerintah dalam menyusun peta jalan pengembangan industri logam tanah jarang.
Menurutnya, pengembangan hilirisasi LTJ harus diawali dengan kepastian data sumber daya dan cadangan agar arah investasi serta skala industri yang dibangun benar-benar sesuai dengan potensi yang tersedia.
Kalbar Masuk Daftar Wilayah Prioritas LTJ
Sorotan terhadap validitas data tersebut menjadi penting bagi Kalimantan Barat. Pasalnya, Badan Industri Mineral (BIM) memasukkan Blok Melawi sebagai salah satu dari delapan wilayah prioritas eksplorasi mineral kritis nasional.
Berdasarkan pemaparan BIM di DPR, Blok Melawi memiliki kandungan logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 81.720 ppm dan luas wilayah mencapai sekitar 54 ribu hektare.
Wilayah lain di Kalbar yang juga masuk peta mineral kritis adalah Blok Boyan Hulu di Kabupaten Kapuas Hulu yang dikenal memiliki potensi antimon tinggi.
Fakta tersebut menempatkan Kalbar sebagai salah satu daerah yang berpotensi memainkan peran penting dalam rantai pasok mineral kritis nasional di masa depan.
Kalbar Sudah Lama Dilirik untuk Pengembangan Rare Earth
Ketertarikan terhadap potensi LTJ Kalbar sebenarnya bukan hal baru. Pada (22/3/2021) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) melakukan kajian khusus mengenai logam tanah jarang yang terkandung dalam residu bauksit di Kalimantan Barat.
Saat itu, Lemhannas menilai Kalbar memiliki posisi strategis karena menyimpan cadangan bauksit terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
Unsur tanah jarang dinilai dapat menjadi komoditas bernilai tinggi apabila berhasil dipisahkan dan diolah dari limbah maupun residu pengolahan bauksit.
Kajian tersebut kini kembali relevan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap rare earth untuk industri kendaraan listrik, magnet permanen, energi terbarukan, semikonduktor, hingga sektor pertahanan.
Masih Membutuhkan Data dan Kajian Lanjutan
Lemhannas menilai pengembangan industri LTJ tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Sejumlah tahapan mulai dari eksplorasi, pemetaan sumber daya, penguasaan teknologi pemisahan mineral, hingga kajian keekonomian masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan sebelum hilirisasi skala besar dijalankan.
Dalam laporan Pontianak Post (31/5), juga menyebutkan perhatian terhadap pentingnya riset juga terlihat dari keterlibatan BRIN.
Saat ini BRIN tengah mengkaji potensi skandium, salah satu mineral kritis kelompok logam tanah jarang yang ditemukan dalam residu pengolahan bauksit (red mud) di Kalimantan Barat.
Temuan tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan industri mineral strategis berbasis sumber daya lokal.
Kalbar Punya Peluang Besar dalam Industri Mineral Strategis
Bagi Kalimantan Barat, pengembangan logam tanah jarang dapat menjadi babak baru hilirisasi setelah bauksit dan alumina.
Apalagi, pemerintah telah memasukkan Kalbar sebagai salah satu wilayah yang dipertimbangkan dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis nasional.
Walau begitu, keberhasilan pengembangan LTJ tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi geologi.
Ketersediaan data yang akurat, kesiapan teknologi pengolahan, kepastian investasi, serta aspek lingkungan menjadi faktor penting agar industri baru tersebut benar-benar mampu memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat. (*)
Editor : Miftahul Khair