PONTIANAK POST - Di tengah percepatan global menuju energi bersih dan kendaraan listrik, satu mineral yang selama ini jarang terdengar mulai menjadi perhatian dunia.
Namanya skandium. Logam langka ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih, pesawat terbang, hingga kendaraan listrik.
Menariknya, Kalimantan Barat disebut menyimpan potensi skandium dalam jumlah signifikan dari limbah pengolahan bauksit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Skandium, Mineral Langka yang Mulai Diburu Dunia
Laporan Innovation News Network (18/4/2024) menyebut skandium menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan teknologi energi bersih.
Mineral ini dapat digunakan untuk menghasilkan paduan aluminium yang lebih ringan, kuat, dan tahan korosi dibanding material konvensional.
Penggunaan skandium pada industri transportasi dinilai mampu mengurangi bobot kendaraan dan pesawat, sehingga konsumsi energi dan emisi karbon dapat ditekan.
selain itu, skandium juga berperan dalam pengembangan Solid Oxide Fuel Cell (SOFC), teknologi pembangkit listrik beremisi rendah yang banyak diproyeksikan menjadi bagian penting transisi energi global.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
Penambahan skandium pada komponen fuel cell membuat sistem bekerja lebih efisien dan tahan lama.
Karena manfaatnya, kebutuhan skandium diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, energi hidrogen, manufaktur pesawat, hingga teknologi pertahanan.
Kalbar Masuk Peta Mineral Strategis Dunia
Di Indonesia, perhatian terhadap skandium mulai mengarah ke Kalimantan Barat. Dalam laporan Pontianak Post (31/5) Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa skandium memiliki keterkaitan erat dengan residu pengolahan bauksit atau red mud yang banyak ditemukan di Kalbar.
Selama ini red mud lebih dikenal sebagai limbah industri pengolahan bauksit. Namun penelitian terbaru menunjukkan material tersebut justru menyimpan mineral bernilai tinggi yang dibutuhkan industri global.
Menurut BRIN, skandium menjadi salah satu mineral kritis yang dibutuhkan untuk industri pesawat terbang, kendaraan listrik, energi bersih, hingga sektor pertahanan.
Potensi tersebut membuka peluang baru bagi Kalbar untuk tidak hanya menjadi pemasok bauksit mentah, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok mineral strategis dunia.
Dari Limbah Menjadi Komoditas Bernilai Tinggi
Selama bertahun-tahun, perhatian industri pertambangan lebih banyak tertuju pada aluminium yang dihasilkan dari bauksit.
Kini arah pengembangan mulai bergeser ke pemanfaatan mineral ikutan yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Skandium menjadi salah satu contoh paling menarik. Nilainya di pasar internasional tergolong tinggi karena pasokan global masih terbatas, sementara kebutuhan industri terus meningkat.
Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai mencari sumber baru skandium dan mengembangkan teknologi ekstraksinya.
Bagi Kalbar, kondisi ini dapat menjadi peluang besar jika riset dan hilirisasi mampu dikembangkan.
Keberadaan smelter bauksit dan industri alumina yang terus tumbuh di daerah tersebut berpotensi menghasilkan pasokan red mud yang dapat diolah lebih lanjut untuk mengambil kandungan skandium.
Tantangan Hilirisasi Masih Besar
Walau tampak menjanjikan, pengembangan industri skandium tidak bisa dilakukan secara instan.
Perlu teknologi pemisahan yang kompleks, investasi besar, serta kepastian data cadangan yang akurat sebelum industri dapat berkembang secara komersial.
Lalu, pengelolaan lingkungan juga menjadi faktor penting. Pemanfaatan red mud harus dilakukan dengan teknologi yang aman agar tidak menimbulkan dampak baru bagi lingkungan sekitar kawasan industri.
Peluang Baru Ekonomi Kalbar
Masih mengutip Pontianak Post, Jika pengembangan skandium berhasil dilakukan, Kalimantan Barat berpotensi memperoleh nilai tambah jauh lebih besar dibanding hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.
Daerah ini bisa menjadi bagian penting dari rantai pasok global untuk industri energi bersih, kendaraan listrik, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Di tengah tren transisi energi dunia, skandium yang selama ini tersembunyi dalam limbah bauksit dapat menjadi harta karun baru Kalbar.
Tantangannya kini bukan lagi soal keberadaan mineral tersebut, melainkan seberapa cepat riset, teknologi, dan hilirisasi mampu mengubah potensi menjadi industri bernilai tinggi. (*)
Editor : Miftahul Khair