PONTIANAK POST - Kalimantan Barat sejauh ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia.
Namun di balik aktivitas pertambangan tersebut, tersimpan potensi mineral strategis yang kini menjadi rebutan banyak negara, yakni logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements.
Di tengah kebutuhan industri yang terus meningkat seperti kendaraan listrik, energi bersih, hingga teknologi pertahanan, Kalbar dinilai memiliki peluang besar untuk ikut masuk dalam rantai pasok mineral strategis dunia.
Baca Juga: Kasus Kontainer Batam Memanas, Satgas PKH Ungkap Dugaan Logam Tanah Jarang dalam Muatan Ekspor
Sebut Kalimantan Termasuk Wilayah Prospektif
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Lucas Donny Setijadji, menyatakan Indonesia memiliki potensi besar logam tanah jarang yang tersebar di sejumlah wilayah.
Menurutnya, sedikitnya terdapat delapan lokasi yang menyimpan potensi logam tanah jarang yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Bahkan wilayah Kalimantan disebut mulai menunjukkan prospek baru dengan karakter geologi yang beragam.
“Indonesia memiliki potensi besar, tetapi perlu dibedakan antara potensi dan realitas. Logam tanah jarang di Indonesia masih berada pada tahap potensi eksplorasi dan pengujian keekonomian,” kata Lucas dikutip dari laman resmi UGM (18/2).
Berpotensi Menjadi Sumber Mineral Strategis
Peluang Kalbar semakin menarik karena provinsi ini merupakan salah satu pusat produksi bauksit nasional.
Berbagai penelitian yang dilakukan lembaga penelitian di bawah Kementerian ESDM menunjukkan residu pengolahan bauksit atau red mud menyimpan berbagai unsur mineral bernilai ekonomi yang masih bisa dimanfaatkan lebih lanjut.
Dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA) ESDM menyebut residu bauksit Kalimantan Barat memiliki kandungan mineral yang masih berpotensi dikembangkan melalui teknologi pengolahan lanjutan.
Sementara studi lain terhadap residu bauksit di Tayan, Kalbar, menunjukkan volume red mud yang dihasilkan industri alumina sangat besar sehingga membuka peluang pemanfaatan mineral ikutan yang terkandung di dalamnya.
Kebutuhan Dunia Terhadap Logam Tanah Jarang Terus Meningkat
Logam tanah jarang kini menjadi bahan penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, satelit, perangkat elektronik, sampai industri pertahanan.
UGM menjelaskan mineral ini digunakan untuk komponen mesin jet tempur, pesawat komersial, sistem senjata rudal, alat komunikasi, satelit, hingga berbagai perangkat elektronik berteknologi tinggi.
Karena itu banyak negara berlomba mencari sumber pasokan baru di luar produsen utama dunia.
Tantangan Terbesar Ada pada Teknologi Ekstraksi
Meski potensinya besar, pengembangan logam tanah jarang tidak bisa dilakukan secara ala mie instan.
Pakar dari UGM tersebut di atas menjelaskan tantangan utama justru berada pada penguasaan teknologi ekstraksi dan pemurnian.
Logam tanah jarang sering berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda-beda pada setiap lokasi sehingga membutuhkan metode pengolahan yang spesifik.
Karena itu, keberhasilan industri logam tanah jarang tidak hanya bergantung pada cadangan mineral, tetapi juga kemampuan riset, teknologi, dan investasi hilirisasi.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
Peluang Besar bagi Kalbar
Jika teknologi ekstraksi dan hilirisasi berhasil dikembangkan, Kalbar berpeluang memperoleh nilai tambah yang jauh lebih besar dibanding hanya mengandalkan penjualan bauksit mentah atau alumina.
Potensi tersebut dapat mendorong lahirnya industri baru berbasis mineral strategis, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Kalbar dalam rantai pasok industri energi bersih dan teknologi tinggi di masa depan.
Terlebih, pemerintah saat ini juga semakin memberi perhatian terhadap pengembangan mineral kritis dan logam tanah jarang sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional. (*)
Editor : Miftahul Khair