PONTIANAK POST – Fenomena El Nino yang mulai berkembang di Indonesia belum membawa dampak yang sama ke seluruh wilayah. Di saat sebagian daerah di Indonesia bagian utara masih diguyur hujan hingga memicu banjir, wilayah selatan justru mulai memasuki musim kemarau dan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi sejumlah fenomena atmosfer, mulai dari gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, hingga Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif memicu pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
“Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Kamis (4/6).
Menurut BMKG, hingga akhir Mei 2026 baru sekitar 24 persen dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang secara resmi memasuki musim kemarau.
Sebagian besar wilayah lainnya masih berada dalam masa peralihan sehingga hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi.
Kondisi itu menyebabkan Indonesia seolah mengalami dua musim dalam waktu bersamaan. Di satu sisi masyarakat di sejumlah wilayah masih berhadapan dengan banjir dan tanah longsor, sementara daerah lain mulai menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran lahan.
Dampak hujan yang masih tinggi terlihat di sejumlah wilayah Indonesia bagian utara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir melanda Kota Manado, Sulawesi Utara, pada akhir Mei lalu. Sebanyak 747 warga terpaksa mengungsi setelah permukiman mereka terendam akibat luapan sungai dan sistem drainase yang tidak mampu menampung tingginya debit air.
BMKG menjelaskan, meskipun musim kemarau telah diumumkan, dinamika atmosfer yang masih aktif membuat potensi hujan tetap tinggi di sejumlah kawasan, terutama yang berada di sekitar wilayah utara dan dekat perairan.
Fenomena tersebut menjadi alasan mengapa banjir masih terjadi di tengah periode yang secara klimatologis mulai memasuki musim kemarau.
Berbeda dengan wilayah utara, dampak El Nino mulai dirasakan di kawasan selatan Indonesia yang berada di bawah garis khatulistiwa.
BMKG menjelaskan bahwa penurunan curah hujan akibat El Nino umumnya lebih dominan terjadi di wilayah selatan Indonesia.
Fenomena tersebut diperkirakan semakin kuat pada Agustus hingga Oktober 2026 ketika El Nino diproyeksikan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat.
Kondisi itu mulai terlihat dari meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Data BNPB mencatat luas lahan terbakar di Riau hingga awal Juni mencapai 3.474,74 hektare. Sementara di Sumatera Selatan, luas kebakaran tercatat mencapai 182,54 hektare.
Kebakaran juga mulai dilaporkan terjadi di wilayah Bangka Belitung hingga kawasan savana di sekitar Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
BMKG menegaskan bahwa bencana banjir tidak semata-mata dipicu faktor cuaca.
Menurut Faisal, meningkatnya pembangunan kawasan permukiman, alih fungsi lahan, serta pendangkalan sungai ikut memperbesar risiko banjir ketika hujan turun.
Akibat perubahan lingkungan tersebut, curah hujan yang sebelumnya tidak menimbulkan masalah kini dapat dengan cepat memicu banjir bandang maupun tanah longsor.
“Interferensi manusia terhadap lingkungan menjadi salah satu faktor yang memperbesar kerentanan bencana,” ujarnya.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lengah meskipun musim kemarau telah dimulai.
Wilayah yang masih berpotensi diguyur hujan perlu tetap mewaspadai banjir dan longsor, sedangkan daerah yang mulai mengalami penurunan curah hujan harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan, kekeringan, dan krisis air.
Situasi ini menunjukkan bahwa El Nino tidak menghadirkan dampak yang seragam. Ketika sebagian masyarakat masih berjuang menyelamatkan diri dari banjir, masyarakat di wilayah lain mulai menghadapi ancaman kebakaran dan kekeringan.
Indonesia pun memasuki musim yang unik: satu negara, tetapi dengan dua ancaman cuaca yang berbeda pada saat yang sama. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro