Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

AHY Matangkan Mega Proyek Giant Sea Wall, Indonesia Kejar Perlindungan Pesisir Pantura di Tengah Ancaman Iklim Ekstrem

Basilius Andreas Gas • Jumat, 5 Juni 2026 | 10:16 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (ANTARA/HO - Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (ANTARA/HO - Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan)

PONTIANAK POST- Pemerintah Indonesia mempercepat pematangan rencana pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall sebagai langkah strategis menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah pesisir, khususnya Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan proyek tersebut tidak hanya berfokus pada perlindungan fisik, tetapi juga pada keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

“Indonesia sedang mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari agenda perlindungan pesisir yang lebih luas, utamanya di wilayah Pantura Jawa. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan perlindungan fisik, tetapi juga menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat, melindungi mata pencaharian, serta memastikan keberlanjutan ekosistem sosial dan ekonomi di kawasan pesisir,” ujar AHY dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Menurut AHY, perubahan iklim telah memberikan dampak nyata yang tidak bisa diabaikan, mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah di sejumlah wilayah pesisir. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah mitigasi jangka panjang yang terukur dan terintegrasi.

Ia menambahkan proyek Giant Sea Wall juga membuka peluang kerja sama internasional yang luas, terutama dalam bidang rekayasa pesisir, teknologi perlindungan pantai, sistem penghalang laut, operasi dan pemeliharaan, serta riset dan pengembangan.

AHY menegaskan bahwa tantangan global tidak cukup dijawab dengan wacana, melainkan membutuhkan aksi nyata yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kita perlu bergerak dari dialog menuju aksi, dari kerangka kerja menuju proyek nyata, dan dari komitmen menuju hasil yang dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, proyek Giant Sea Wall dirancang untuk menjawab persoalan banjir rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan permukaan air laut yang terus mengancam kawasan pesisir padat penduduk dan pusat ekonomi di Pantura Jawa.

Gagasan pembangunan tanggul laut tersebut sebenarnya telah lama dibahas, namun kembali mendapat dorongan seiring meningkatnya risiko perubahan iklim serta tekanan terhadap kawasan pesisir.

Sekitar 50 juta penduduk disebut tinggal di wilayah Pantura Jawa, sehingga diperlukan sistem perlindungan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mengurangi risiko bencana lingkungan.

Sejumlah wilayah seperti Teluk Jakarta, Semarang, Demak, dan Kendal menjadi daerah yang paling rentan terdampak kombinasi kenaikan muka air laut dan penurunan tanah yang memicu banjir rob secara berulang. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#Giant Sea Wall #Pantura Jawa #pesisir #pemerintah